3054
Hits

Dorong Daya Saing Bangsa Melalui Penguatan Ekosistem Inovasi dan Penguasaan Teknologi

Administrator
05 Mar 2021
Layanan Info Publik

Sebagai institusi pemerintah yang fokus pada bidang kaji terap teknologi, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) terus berupaya melahirkan inovasi dan teknologi yang mampu mewujudkan program prioritas pemerintah. Sampai saat ini BPPT telah banyak menghasilkan inovasi dan teknologi yang diterapkan diberbagai sektor guna mendukung kemajuan perekonomian dan mendorong daya saing negeri.

 

Membangun dan memperkuat ekosistem inovasi menjadi konsep dan strategi BPPT dalam melakukan inovasi teknologi dengan semangat dan nafas "Open Innovation" dari para perekayasa, peneliti dan pimpinan BPPT.

 

Tiga bidang teknologi kesehatan yang menjadi prioritas kajian dan aktivitas inovasi yaitu Teknologi Produksi Bahan Baku Obat (BBO), Teknologi untuk penanganan Covid-19, dan Teknologi implan gigi dan tulang.  Produk prioritas inovasi untuk BBO adalah antibiotik amoksisilin, paracetamol, insulin, vaksin dan adjuvan vaksin Human Papiloma Virus (HPV) dan sediaan Herbal.

 

Untuk penangan Covid-19 dikembangkan produk untuk penguatan testing seperti tes kit untuk pengukuran antibodi secara kuantitatif, rapid tes antigen, Direct Digital Radiography dan aplikasi AI untuk deteksi Covid-19 berbasis data X-Ray dan CT Scan. Serta ventilator ICU merupakan alat medis yang dikembangkan untuk penguatan pelayanan pasien Covid-19. Selain itu, juga dikembangkan produk-produk suplemen kesehatan seperti herbal, imunistimulan, black garlic, beta glukan serta biskuit yang diperkaya dengan vitamnin dan mineral.

 

Inovasi Bidang Kesehatan

Ketika pandemi Covid-19 mulai merebak, BPPT bersama lembaga litbang, perguruan tinggi, industri, asosiasi dan juga beberapa startup company merespon cepat dengan membentuk Task Force Riset dan Inovasi Teknologi Penanganan Pandemi Covid-19, (TFRIC-19).

 

Deputi BPPT Bidang Teknologi Agroindustri dan Bioteknologi (TAB – BPPT) Soni Solistia Wirawan di acara Rakernas BPPT 2021 (05/03) mengatakan, TFRIC-19 BPPT  merupakan bagian dari Konsorsium Riset dan Inovasi Teknologi Penanganan Pandemi Covid-19 Kementerian Ristek/BRIN.

 

Melalui ekosistem inovasi telah melahirkan produk alat kesehatan diantaranya inovasi produk diagnostik Non PCR yaitu inovasi Rapid Diagnostik Test untuk deteksi antibodi IgG/IgM, Recombinant Proteint N & S1, Biosensor Surface Plasmon Resonance (SPR) serta Artificial Intelligence untuk deteksi Covid-19, data Whole Genome Sequncing (WGS) yang merupakan profil karakteristik peta gen Covid-19 yang sangat penting untuk acuan pengembangan vaksin, diagnostik dan produk berbasis gen lainnya.

 

Selain itu disebutkan juga, BPPT mempunyai berbagai inovasi lainnya dibidang alat kesehatan seperti Mobile Lab BSL-2 merupakan Inovasi TFRIC-19 yang patut menjadi kebanggaan. Lab Mobile BSL-2 ini juga dilengkapi dengan aplikasi Pantau Covid (PC-19) untuk memudahkan masyarakat yang akan melakukan swab test dengan melakukan registrasi on line untuk mendapatkan jadwal waktu dan urutan untuk swab test.

 

Saat ini, Lab mobile BSL2 BPPT ditempatkan di RS TNI Ridwan Meuraksa Taman Mini Pemkot Tangerang versi bus untuk mendukung pemeriksaan swab dan PCR, ujarnya.

 

Inovasi lainnya yakni tiga jenis emergency ventilator yang dikembangkan bersama mitra industri diantaranya PT LEN, PT PT Poly Jaya dan PT Dharma Precision Tools. Emergency ventilator tersebut diantaranya berbasis ambu bag dan CAM, berbasis Ambu Bag dan Arm serta ventilator CMV berbasis Pneumatik.

 

BPPT sebagai Pusat Unggulan Iptek (PUI) Teknologi Material Medis melalui program inovasi teknologi biocompatible material untuk alat kesehatan telah berhasil melakukan pengembangan implan tulang traumatik stainless steel 316L bersama PT. Zenith Allmart Precisindo hingga proses komersialisasi.

 

Saat ini, produk implan tulang traumatik Stainless Steel 316L tersebut telah ditayangkan dalam E- Katalog - LKPP dan telah dipakai di beberapa rumah sakit. Saat ini produk implan traumatik yang beredar di dalam negeri masih didominasi oleh produk impor yang proporsinya mencapai 94% dengan harga yang tidak murah.

 

Kondisi ini menurutnya, menjadi penyumbang defisit BPJS yang semakin meningkat setiap tahun, sehingga dengan tingginya biaya pembelian implan dan pajak import mendorong untuk pengembangan implan secara lokal.

 

Saat ini BPPT ditunjuk sebagai Koordinator Program Prioritas Nasional (PRN) Implan Tulang dan Koordinator PRN Implan Gigi bersama mitra seperti perguruan tinggi, Kementerian dan Lembaga, industri dan asosiasi dalam menentukan teknologi kunci dan menyepakati target-target hilirisasi produk sesuai dengan roadmap.

 

Adapun kerekayasaan implan tulang memerlukan tahapan riset, pengembangan teknologi serta penguatan teknologi produksi sehingga industri sebagai produsen mencapai tahapan cara pembuatan alat kesehatan yang baik serta mendapatkan izin edar sesuai peraturan Kementerian Kesehatan menuju inovasi dan komersialisasi.

 

Sementara, pengembangan Bahan Baku Obat (BBO) menjadi salah satu inovasi BPPT yang menjadi bagian terpenting dalam inovasi kesehatan karya anak negeri. Saat ini  Indonesia memerlukan akselerasi teknologi untuk mengembangkan bahan baku obat serta memproduksi obat.

 

Pasalnya, Indonesia memiliki kekayaan biodiversitas nomor dua terbesar di dunia yang dapat dimanfaatkan menjadi bahan baku obat dan pangan, bahan baku obat tersebut tersimpan dalam kekayaan keanekaragaman hayati Indonesia yang harus ditemukan, diidentifikasi dan diolah.

 

Saat ini Indonesia masih mengimpor lebih dari 95 persen bahan baku obat termasuk obat generik. Padahal, Indonesia saat ini dengan jumlah penduduk terbesar keempat di dunia dapat menjadi pasar yang besar untuk kebutuhan obat, jelasnya.

 

Inovasi Bidang Pangan

Pengembangan lainnya dilakukan guna mewujudkan ketahanan pangan dan gizi melalui inovasi pencegahan stunting guna menjamin pertumbuhan generasi penerus Indonesia dalam menyambut bonus demografi di tahun 2045.

 

BPPT terus berkomitmen memberikan kontribusi nyata dalam mendorong tumbuhnya industri pangan nasional, terutama pengembangan industri pangan berbahan baku tanaman lokal dan pangan sehat bergizi tinggi.

 

Beberapa kegiatan BPPT di bidang pangan telah dan terus dilanjutkan adalah inovasi pangan untuk mengurangi resiko stunting seperti abon telur Purula, Biskuneo, beras sago, beras singkong, dan mie sagu, sebutnya.

 

Teknologi di bidang pangan lainnya guna meningkatkan produktifitas dan optimasi teknologi produksi di bidang pertanian, perikanan dan peternakan melalui penggunaan agrobioteknologi, smart farming dan teknologi-teknologi terkini di bidang pertanian, agar dapat mewujudkan produk-produk hasil pertanian dalam jumlah yang cukup, berkualitas dan berkelanjutan.

 

Saat ini, BPPT terus meningkatkan kolaborasi dan sinergi dengan institusi dan stakeholder lain termasuk industri dalam rangka memperkuat eksosistem inovasi guna mempercepat penguasaan teknologi dan proses hilirisasi dari produk inovasi yang dikembangkan. (Humas BPPT)