11359
Hits

EFISIENSI AIR: SEKARANG, BESOK DAN NANTI

‚Dengan kondisi tersebut masyarakat kemudian banyak memanfaatkan air bawah permukaan (groundwater) dengan menggunakan pompa, dan sangat jarang memikirkan dampak penurunan tinggi muka air bawah permukaan dan intrusi air laut. Hal ini menjadi masalah dilematis bagi masyarakat, dimana di satu sisi jika hanya mengandalkan pasokan air bersih dari pemerintah tidak akan cukup, namun jika mengambil sendiri pun dapat berdampak cukup serius bagi lingkungan‚, lanjutnya.

Mengenai solusi krisis air bersih ini, Kepala Bidang Teknologi Pengendalian Pencemaran Lingkungan, Pusat Teknologi Lingkungan (PTL) BPPT, Arie Herlambang, turut berkomentar. ‚Kesulitan-kesulitan ini sebenarnya tidak perlu terjadi jika masyarakat dapat menggunakan air yang ada secara efisien. Apalagi kita tahu Indonesia menduduki urutan ke-5 di antara negara-negara yang kaya air setelah Brasil, Rusia, Cina, dan Kanada. Tentunya hal ini menjadi keuntungan tersendiri bagi Indonesia. BPPT berusaha untuk dapat berkontribusi dalam mengatasi masalah krisis air, melalui program peningkatan efisiensi pengelolaan sumberdaya air‚.

Menurut Arie, kelangkaan air yang terjadi di Indonesia, terutama kota besarnya dikarenakan pemborosan dalam pemakaian air. ‚Dengan melakukan efisiensi penggunaan air, tentunya akan sangat membantu dalam hal mengatasi krisis air yang terjadi saat ini. Efisiensi yang dilakukan dapat dilakukan dalam proses penggunaan, seperti penerapan pengaturan pemakaian maupun proses pasca penggunaan seperti mendaur ulang limbah air untuk digunakan kembali‚.

Metode yang BPPT kembangkan yaitu pengolahan air limbah hingga menjadi air bersih yang juga bisa digunakan untuk air minum. Teknologi yang digunakan yaitu biofiltrasi-ultrafiltrasi-RO. Teknologi ini dapat menghasilkan air bersih siap pakai tanpa bahan kimia. Biaya produksi air bersih dengan menggunakan teknologi ini pun lebih murah yaitu sekitar Rp 650-1000/L, dibandingkan dengan menggunakan sistem konvensional yang membutuhkan biaya produksi sekitar Rp 1800-2500/L.

‚Sebagai contoh jika teknologi pengolahan air bersih ini diterapkan di kantor BPPT, dengan kebutuhan air sebanyak 200 m3/hari, dengan alat daur ulang kita mampu melakukan efisiensi air bersih hingga 30% atau 60 m3/hari. Jika asumsi Rp. 10. 000/ m3 nya, maka kita dapat menghemat Rp 180 juta per tahun. Selain penghematan rupiah yang bisa kita lakukan, kita pun dapat membantu mengatasi krisis air yang terjadi di Jakarta. Bayangkan jika semua kantor, industri maupun pemukiman penduduk dapat menerapkan teknologi ini, berapa banyak air yang dapat kita selamatkan agar tidak terbuang percuma?‚, jelas Arie.

Lebih lanjut Arie mengatakan, telah ada beberapa gedung perkantoran dan industri yang mengaplikasikan teknologi daur ulang limbah BPPT, diantaranya adalah PT Usaha Gedung BDN, Kecap ABC, dan PT United Tractor. ‚Mereka menyadari dengan mendaur ulang limbah, mereka turut berkontribusi terhadap kelestarian lingkungan dan ikut menjaga ketersediaan air. Diluar itu semua, tentunya mereka mendapatkan keuntungan dari penghematan air dan citra perusahaan pun ikut terangkat‚.

Arie dan Nusa sepakat, BPPT tidak bisa bekerja sendirian dalam menjaga dan mengefisiensikan penggunaan air. ‚Perlu kerjasama, komitmen yang kuat serta kesadaran tinggi dari semua elemen masyarakat. Karena air adalah sumber kehidupan‚. (YRA/humas)