4990
Hits

ENERGI MASA DEPAN UNTUK SEKTOR TRANPORTASI DAN KETENAGALISTRIKAN

Sejalan dengan pemikiran tersebut, lanjut Marzan, BPPT telah menerbitkan buku Outlook Energi Indonesia secara tahunan. Outlook energi Indonesia memberikan gambaran kondisi kebutuhan dan penyediaan energi, serta pilihan teknologi yang dapat diterapkan di masa depan untuk jangka waktu yang panjang, jelasnya.

Menurut Marzan, kondisi harga minyak akhir-akhir ini telah meningkat secara signifikan, yang terlihat pada asumsi APBN saat ini sudah diatas 100 USD/barel. Hal serupa pada harga batu bara acuan (HBA) sudah diatas 120 USD/ton untuk jenis 6322 kcal/kg (gross caloric value). Selain itu, pertumbuhan ekonomi nasional dalam dua tahun terakhir mengalami kenaikan dari 4,5% (2009) menjadi 6,1% (2010). Sehingga secara makro, hal-hal ini akan mempengaruhi pola permintaan energi ke depan, terangnya.

Pada sektor transportasi, dikatakan Marzan salah faktor yang mendominasi pemakaian BBM hingga mencapai 70%, diikuti sektor industri dan sektor komersial. Hal ini karena di sektor transportasi dipengaruhi oleh terjadinya perubahan karakteristik baik dari sisi penggunaan kendaraan maupun tingkat kemacetan. Yang tentunya juga akan berpengaruh pada pola pemakaian bahan bakar di sektor ini, katanya.

Menurut survey Jabodetabek Urban Transportasi Policy Integration Project (JUPTPIP) tahun 2010, jumlah kendaraan di Jabodetabek mencapai 11,7 juta unit hampir 10% dari total 120 juta unit secara nasional. Pengguna sepeda motor naik menjadi 48,7%, mobil 13,5%, dan angkutan umum turun menjadi hanya 12,9% dari 38,3% (2002). Sementara itu, kecepatan rata-rata 20 km/jam dari 26 km/jam (2002) dan efektifitas pemakaian bahan bakar untuk transportasi hanya 40%

Dikhawatirkan kondisi tersebut akan semakin memburuk jika tidak dilakukan antisipasi secara baik. Di sisi lain, yakni di sektor ketenagalistrikan, pemerintah telah mencanangkan program percepatan pembangkit tahap I dan II yang direncanakan untuk mendorong pemakaian EBT, tambahnya.

Lebih lanjut Marzan mengatakan, sesuai dengan temanya Energi Masa Depan di Sektor Tranportasi dan Ketenagalistrikan, FGD ini bertujuan untuk mendapatkan tanggapan dan masukan terkait dengan asumsi-asumsi bidang ekonomi makro, transportasi, pengembangan aneka EBT (nuklir, CBM, DME, Hidrogen, angina, surya, dan arus laut) dan sektor ketenagalistrikan yang akan diterapkan pada outlook energi Indonesia tahun 2011.

Senada dengan Kepala BPPT, Perwakilan dari Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Perhubungan, Panal, mengatakan FGD ini bertujuan untuk mendapatkan masukan atas asumsi-asumsi yang diterapkan pada skenario yang dikaji pada outlook energi Indonesia 2011.

Di bidang ekonomi makro, diharapkan akan didapat masukan mengenai antara lain kondisi perekonomian saat ini dan faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhannya. Selain itu juga mengenai dampak harga energi terhadap pertumbuhan ekonomi, prakiraan pertumbuhan ekonomi sektoral, serta prediksi pertumbuhan industri transportasi darat, lanjut Panal.

Kebijakan yang mendukung pengembangan energi alternatif, kebijakan insentif dan konsisten bidang minyak dan gas bumi serta energi alternatif dan kebijakan harga energi merupakan beberapa masukan yang diharapkan dapat diperoleh melalui FGD.

Selanjutnya, pada Bidang Energi Baru dan Terbarukan, ingin pula didapat masukan seperti kebijakan pengembangan, penerapan dan roadmap teknologi nuklir, CMB, DME, Hidrogen, Angin, Surya dan Arus Laut, dan Strategi implementasina. Selain itu, pada bidang transportasi darat seperti roadmap pengembangan transportasi massal (darat), implementasi kebijakan teknologi kendaraan standar Euro dan kebijakan uji emisi.

Secara singkat, faktor penting yang mampu menjaga ekonomi Indonesia, disamping ekspor yang tetap mendukung perekonomian dan confidence luar negeri yang terjaga, stabilitas ekonomi juga tidak boleh diabaikan. Melalui langkah-langkah stabilitas yang tepat terutama dalam mengantisipasi meningkatnya harga-harga di dalam negeri dan menjaga ketahanan fiskal diyakini dapat menjaga stabilitas perekonomian Indonesia, ungkapnya. (KYRNS/humas)