5241
Hits

Energi Terbarukan Siap Substitusi Bahan Bakar Minyak

 
 
"Beberapa fokus kegiatan BPPT yaitu, penyediaan Bahan Bakar Nabati (BBN) seperti biodiesel, bioethanol dan Pure Plant Oil (PPO) untuk substitusi BBM, pemanfaatan dan peningkatan kualitas batubara, pengembangan produk bahan bakar gas untuk mengurangi impor BBM dan LPG," kata Adiarso, di acara Media Gathering TIEM 2015 bertajuk Solusi Isu Nasional Bidang TIK, Kelistrikan, Bahan Bakar dan Material di Gedung Teknologi 3, Puspiptek, Serpong, (27/1). 
 
 
Dia menambahkan, hasil perekayasaan BPPT di bidang teknologi biodiesel adalah pilot plant biodiesel (sebagai pengganti solar). Teknologi tersebut sudah memenuhi standar SNI 7182-2012 dan sudah dimanfaatkan oleh beberapa perusahaan di Indonesia.  Selain itu, BPPT juga telah melakukan inovasi teknologi dry washing, yaitu teknologi proses biodiesel yang tidak menggunakan air dalam proses pemurniannya. Teknologi ini sudah diterapkan oleh PT AStra Agro Lestari dengan memproduksi biodiesel secara internal untuk mengurangi penggunaan solar perusahaan.
 
 
"Di tahun 2014 lalu, BPPT telah bekerja sama dengan Kementerian ESDM, PT Pertamina, Gaikindo, ITB dan Aprobi dalam melakukan Uji Jalan penggunaan biodiesel B-20 (campuran biodiesel 20 persen dari solar yang digunakan). Pada uji jalan ini menggunakan enam kendaraan dari beberapa ATPM dengan menempuh jarak 500 km per hari," ujar Adiarso.
 
 
BPPT juga sudah mengembangkan pilot plant bioethanol (sebagai pengganti premium) yang dibangun di Sulusuban dan Tulang Bawang, Lampung. Dalam pengembangannya, BPPT bekerjasama beberapa lembaga di Jepang, Gunma University, JICA dan JST, dalam melakukan kajian produksi methanol dari limbah biomassa seperti tandan kosong kelapa sawit.
 
 
Selain itu, BPPT bersama dengan PT PLN sedang mengembangkan pemanfaatan PPO untuk bahan bakar pada Pembangkit Listrik Tenaga Diesel  (PLTD) dan Pembangkit Listrik Tenaga Gas (PLTG). Penggunaan PPO untuk PLTD terbukti sangat baik dan siap menggantikan solar sebanyak 50 persen. 
 
 
"Untuk mensukseskan program substitusi BBM ke bahan bakar alternatif. BPPT memandang perlu ada kebijakan baru mengenari harga BBN (biodiesel, bioethanol dan PPO) dengan diterapkannya formulasi harga yang dikaitkan dengan fluktuasi harga bahan baku. Jadi, nantinya subsidi BBN mengikuti mekanisme pasar dan tidak semata-mata menerapkan subsidi dengan nominal tetap. Dengan kebijakan tersebut diyakini akan lebih meningkatkan pemanfaatan BBN di dalam negeri dan bahan bakar terbarukan siap menggantikan BBM," tutup Adiarso. (tw/SYRA/Humas)