2311
Hits

Gelar Refleksi Riset Inovasi Pengelolaan Sampah, OR PPT Sebarluaskan Hasil Inovasi

Jakarta (28/12), Organisasi Riset Pengkajian dan Penerapan Teknologi melalui Pusat Teknologi Lingkungan (OR PPT - PTL ) adakan webinar Refleksi Riset dan Inovasi Pengelolaan Sampah 2021, webinar ini bertujuan untuk memusnahkan sampah secara cepat dan signifikan, bahkan dapat menghasilkan listrik dan mencari terobosan penyelesaian masalah sampah yang ada di Indonesia.

 

Dadan M. Nurjaman Plt. OR Pengkajian dan Penerapan Teknologi dalam sambutannya mengatakan Badan Riset Inovasi Nasional (BRIN) melalui organisasi riset yang ada senantiasa berupaya melakukan inovasi teknologi sebagai solusi terhadap masalah lingkungan yang dihadapi oleh mitra industri, Dalam bidang persampahan kita telah melakukan riset inovasi dan pendampingan serta penerapan teknologi seperti teknologi komposting, biogas, sampai pada pengelolaan sampah berenergi listrik atau yang biasa dikenal dengan PLTSA dengan menggunakan insinerator modular dan pengelolaan sampah berbasis Refused Derived-Fuel (RDF) yang dapat mengatasi persoalan sampah dikota-kota yang berdekatan dengan pabrik semen, pembangkit dan industri yang menggunakan batubara/bahan bakar padat. RDF Plant  ini ujar Dadan berkerjasama dengan BUMN industri manufaktur.

 

Dadan menambahkan OR PPT telah memiliki Pilot Project Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) Merah Putih di Bantar Gebang yang dibangun untuk mendukung program pemerintah dalam upaya percepatan pembangunan PLTSa di beberapa kota besar di Indonesia, sebagai amanah Peraturan Presiden (Perpres) 18/2016 yang direvisi dengan Perpres 35/2018. salah satu tujuan pilot project PLTSa adalah membuktikan potensi ancaman kesehatan oleh emisi dioxin dan difuran dapat dikendalikan. Tujuan lainnya adalah untuk membuktikan (proven technology) bahwa teknologi PLTSa tersebut dapat didesain dan dibangun oleh anak bangsa dengan peningkatan penggunaan produksi dalam negeri (PLTSa Merah Putih), Ujar Dadan.

 

Sementara itu pada kesempatan yang sama Plt. Kepala Pusat Teknologi lingkungan M Abdul Kholiq mengatakan ruwetnya persoalan investasi infrastruktur persampahan sudah disadari banyak pihak. Pemerintah pusat mendorong program TPA regional (TPA yang digunakan bersama oleh beberapa kota/kabupaten sekaligus) hingga waste to energy sebagai senjata pamungkas infrastruktur persampahan berskala kota tetapi masih saja volume sampah terus meningkat , oleh karena itu diperlukan peran serta dari seluruh elemen dalam pengelolaan sampah yang ada seperti peran pemerintah pusat dan pemda dalam membuat kebijakan dan peraturan serta penegakan hukum yang kuat, inisiatif dan peran serta warga dalam pengurangan sampah dan limbah dengan memilah sampah serta inisiasi dengan adanya bank sampah rumah daur ulang dilingkungan sekitar, peran serta dunia usaha dalam memilih bahan serta desain kemasan produk yang ramah lingkungan menerapkan extended producer responsibility (EPR) , serta dengan adanya penerapan teknologi seperti kompos, biogas, maggot , dan teknik waste to energi.

 

Abdul Kholiq menjelaskan teknologi kompos yang urgensinya untuk mengkonversikan sampah organik skala besar secara biologis menjadi pupuk organik komposisi yang berkualitas ,teknologi ini dapat mengatasi sampah dalam jumlah besar yang dilakukan secara kombinasi mekanisme dan manual melalui proses pemilahan sampah, pencacahan , fermentasi aerobik dalam sistem windrow, pembalikan dengan compost turner atau wheel loader, pengayakan produk komposisi dan pengemasan kompos. Selesai sudah prosesnya dan sampah menjadi refuse-derived fuel (RDF). Bentuknya masih seperti sampah, tetapi begitu kering, RDF merupakan sampah yang mudah terbakar dan telah mengalami pemilahan serta diproses melalui pencacahan, pengayakan dan klasifikasi udara.

 

Pengolahan sampah menjadi RDF sebagai pengganti batu bara memiliki nilai ekonomis. Pengolahan dengan sistem semacam ini lebih efisien, karena dapat menggunakan lahan sempit dan fleksibel. Juga mengurangi pencemaran baik air, tanah maupun udara. Pengolahan sampah menjadi RDF ini, mampu menurunkan emisi 19 ribu ton CO2 emisi serta gas metana. Selain itu, dapat mengurangi konsumsi batu bara, karena sampah RDF bisa sebagai pengganti, Diharapkan dari webinar Refleksi ini penerapan teknologi yang ada bisa diterapkan semakin luas sebagai bagian solusi penyelesaian masalah sampah perkotaan di tanah air,” terang Kholiq. (Humas/Cely).