1872
Hits

Hadapi Tantangan Digital, BPPT Siapkan Ekosistem KA dan IoT

Administrator
07 Nov 2020
Layanan Info Publik

Digitalisasi yang melanda dunia sudah tidak terelakkan lagi, terlebih di era pandemi COVID-19. Semua aspek kegiatan sehari-hari di dunia nyata mulai dilakukan secara online atau dalam jaringan, mulai dari bekerja dan belajar dari rumah, hingga pemenuhan kebutuhan sehari-hari telah dilakukan secara online.

 

Kepala BPPT Hammam Riza dalam Seri Webinar Hakteknas 2020, Topik 3: Teknologi Mikroelektronika & IT mengatakan kegiatan less contact society dapat terwujud dengan adanya dukungan teknologi seperti internet yang mampu menghubungkan dunia nyata dengan dunia siber.

 

Internet of Things (IoT), kecerdasan artifisial, big data, serta cloud computing merupakan teknologi yang harus kita kuasai untuk mewujudkan revolusi industri 4.0 yang digaungkan oleh Pemerintah,” terang Hammam dalam rangkaian webinar memperingati Hari Kebangkitan Teknologi Nasional Tahun 2020, Sabtu (07/11).

 

Penguasaan teknologi pendukung Industri 4.0, tambahnya mampu mengantarkan Indonesia untuk berinovasi, meningkatkan efisiensi, bahkan merubah paradigma model bisnis yang telah ada.

 

“Teknologi membawa kita ke dalam cyber physical world, yang memiliki peluang serta ancaman baru, karena menghubungkan apa yang sebelumnya ada disparitas,” ungkapnya.

 

Sebut saja teknologi IoT yang memungkinkan alat-alat fisik dapat terkoneksi dengan internet dan dikendalikan dari jarak jauh, semua itu dapat terwujud dikarenakan penyematan sensor-sensor pada perangkat tertentu.

 

Menurut Hammam, untuk menerapkan IoT di Indonesia dibutuhkan infrastruktur jaringan yang luas, kapasitas bandwith yang besar, dan juga privasi serta keamanan digital. Semua ini baru dapat terwujud dengan dukungan teknologi chip end-node yang low cost production dan low power consumption untuk disematkan dalam sensor.

 

“Tantangan bagi Indonesia yakni menguasai industri ini (chipset -red) dari hulu ke hilir, bukan hanya sebagai pelaku manufacturing services saja,” terangnya.

 

Dirinya menyebut pengembangan ekosistem inovasi untuk IoT dapat dijadikan jembatan penghubung dari hulu (ide/riset) menuju hilir (komersialisasi) melewati jurang kematian teknologi yang biasanya menjadi momok hilirisasi produk inovasi.

 

Selain IoT sebagai teknologi pendukung revolusi industri 4.0, Hammam menilai Indonesia juga harus mulai menguasai kecerdasan artifisial (KA). Perkembangan KA saat ini sangatlah cepat dan telah diaplikasikan dalam berbagai sektor, diantaranya penegakan deteksi COVID-19 menggunakan citra x-ray dan ct-scan, face recognition, prediksi cuaca, pengenalan plat nomor kendaraan, hingga potensi pengambilan keputusan di beberapa area penting.

 

“Kombinasi KA dan IoT bagaikan saudara kembar dalam mewujudkan transformasi digital di Indonesia yang akan membawa Indonesia maju melalui pemanfaatan teknologi,” urainya.

 

Indonesia juga telah meluncurkan Strategi Nasional Kecerdasan Artifisial (Stranas KA) Tahun 2020-2045 dengan fokus pada lima bidang prioritas, yakni kesehatan, ketahanan pangan, reformasi birokrasi, pendidikan & riset, dan mobilitas/smart city.

 

“Stranas KA membawa Indonesia sejajar dengan negara lain yang telah lebih dahulu menerapkannya. Kecerdasan artifisial tidak menggantikan peran manusia, namun manusia dan komputer akan menjadi cerdas bersama,” pungkasnya.