8522
Hits

IMPLAN BERBASIS SUMBER DAYA LOKAL

Stainless steel banyak digunakan sebagai bahan baku dalam berbagai industri seperti industri kimia, industri migas dan industri makanan bahkan industri kesehatan. Kondisi seperti itu menjadikan potensi pasar stainless steel cukup tinggi tidak hanya di negara lain tapi juga di dalam negeri. Namun disisi lain, dengan adanya sumber daya nikel sebagai bahan baku stainless steel yang melimpah, Indonesia justru selama ini masih mengimpor stainless steel dari Jepang dan Korea. Tentunya hal tersebut menimbulkan suatu ironi tersendiri bagi kita‚, kata Kepala Bidang Logam Paduan Pusat Teknologi Material (PTM) BPPT, Barman Tambunan, saat dijumpai di ruang kerjanya, Selasa (23/3).

Merujuk dari kondisi yang ada di lapangan, menurut Barman, PTM mencoba memfokuskan pada bidang industri kesehatan, yakni untuk pembuatan implan tulang. ‚Kenapa kesehatan? Karena menurut data, angka kecelakaan kendaraan bermotor khususnya kendaraan roda dua, sangat tinggi. Selain itu, persyaratan bio compability pada pembuatan implan, akan memudahkan bagi PTM untuk menerapkannya pada aplikasi lain selain implan, yang banyak dibutuhkan oleh industri-industri di luar industri kesehatan‚, ujarnya.

Stainless steel yang disyaratkan untuk pembuatan implan adalah jenis SS316L yang tahan karat dan rendah kandungan carbon steel (0,063). Jenis ini sama dengan yang biasa dipakai oleh industri makanan.

‚Selama ini industri biasa mengimpor stainless steel batangan, baru kemudian dipotong dan dibentuk sesuai implan tulang yang dibutuhkan. Hal ini tentu saja tidak praktis dari segi waktu dan biaya. PTM mencoba memberikan solusi lain yang lebih efisien. Dengan teknologi yang kita miliki, kita mampu mengolah biji nikel mentah menjadi stainlees steel, dan kemudian kita tuangkan ke dalam investment casting yang telah dibentuk sesuai dengan implan tulang yang dikehendaki. Jadi dalam sekali pembuatan, kita bisa mendapatkan implan tulang dalam berbagai bentuk dan ukuran dalam jumlah banyak‚, jelas Barman.

Implan tulang buatan PTM ini sudah diuji dalam beberapa tahap pengujian, seperti uji mekanis dan uji dengan menggunakan artificial blood plasma. ‚Dalam pengujian kita dibantu oleh ahli ortopedi dari RS di Surabaya. Tahun ini kita akan mencoba mengujikan implan tulang ini pada hewan sebelum diujikan ke manusia. Untuk diujikan pada manusia, kita harus menjamin ketepatan komposisi bahan yang terkandung dalam implan, diantaranya krom, nikel, silikon dan mangan. Untuk krom, sampai sekarang kita masih impor, padahal kita mempunyai bahan bakunya, tetapi kendalanya kita belum mampu untuk membuatnya‚.

Barman mengharapkan, dengan adanya solusi teknologi ini, akan dapat menekan biaya yang harus dikeluarkan dalam pembuatan implan tulang, kurang lebih sekitar 30% lebih murah dibandingkan apabila impor stainless steel dari Jepang dan Korea. Pada akhir wawancaranya Barman menegaskan, ‚Kita membutuhkan investor yang berani untuk menggunakan produk-produk riset. Dengan itu, industri-industri akan tertarik untuk lebih mengembangkan bahan baku lokal‚. (KYRA/humas)