4925
Hits

Junior Science Odyssey 2015, Wahana Pengenalan Iptek Sejak Usia Dini

Administrator
27 Aug 2015
Layanan Info Publik

 

Acara 4th ASEAN Plus Three Junior Science Odyssey (APT JSO) ini merupakan acara tahunan di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek) untuk kaum muda berusia 13-15 tahun yang berasal dari 13 negara anggota ASEAN +3 dan negara tamu. Program ini di bawah naungan the ASEAN Plus Three (Jepang, Korea dan Cina) Committe on Science and Technology (ASEAN +3 COST).

 

Acara APT JSO ini didesain khusus untuk pengembangan bakat dan prestasi iptek kaum muda serta memupuk bakat peneliti muda. Beberapa kegiatan JSO ini antara lain program siswa, guru/pelatih, serta kuliah umum. Rangkaian kegiatan ini dilaksanakan dari tanggal 24 Agustus 2015 hingga 29 Agustus 2015 dengan tema ”Bioversitry towards an innovative, Smart and Green Society”. Acara ini diikuti oleh 14 Negara antara lain dari Indonesia, Malaysia, Thailand, Vietnam, Jepang, Korea, Cina dll.

 

Deputi Kepala BPPT Bidang Teknologi Agroindustri dan Bioteknologi, Listyani Wijayanti yang hadir pada acara ini menuturkan bahwa kegiatan semacam ini dapat menjadi ajang untuk mengetahui seberapa jauh sebuah negara bisa memperkenalkan teknologi dan ilmu pengetahuan kepada warganya.

 

Menurut Listyani, pengenalan ilmu pengetahuan dan teknologi menjadi penting karena dapat menjadi awal dari munculnya inovasi dan pengembangan teknologi yang berujung pada kemajuan ekonomi dan bisnis. "Dalam pengembangan teknologi diperlukan kreativitas serta sentuhan seni agar dapat dimanfaatkan oleh industri," ucap Listyani.

 

Di tempat yang sama, Komite ASEAN APT JSO 2015, Finarya Legoh mengatakan, 81 peserta datang dari 10 negara anggota ASEAN, Taiwan Swedia, Tiongkok, dan Korea Selatan. Mereka akan diajak untuk memperoleh pengalaman terkait dengan ilmu pengetahuan dan teknologi.

 

Semua peserta yang rata-rata berusia 13-15 tahun ini akan melihat beragam fasilitas teknologi di laboratorium fisika, kimia, dan biologi. "Pengenalan ini sangat penting agar mereka terbiasa untuk terus mengembangkan inovasi. Itu karena merekalah yang nantinya akan menggenggam dunia," ujar Finarya.

 

Selain memperkenalkan teknologi penelitian, para peserta juga diminta memperkenalkan kekayaan hayati dari setiap negaranya. Kemudian, sebisa mungkin mengembangkan produk tersebut agar dapat dimanfaatkan. Kegiatan ini dimaksudkan untuk melatih kreativitas peserta.

 

Selanjutnya, para peserta akan terlibat langsung dalam menghasilkan sebuah produk, seperti akan membuat kue dari rumput laut, mulai dari menakar dan rasa, dan mengetahui nutrisinya yang terkandung di dalamnya. "Para peserta diajak untuk dapat menghasilkan produk yang mengedepankan kelestarian lingkungan," tutupnya. (Humas)