6412
Hits

"Kala Itu, IPTEK Kita Disegani Dunia"

Administrator
04 Aug 2016
Layanan Info Publik

 

Dalam orasi ilmiahnya yang berjudul IPTEK Untuk Pembangunan Kemaritiman Indonesia, dirinya sangat menekankan pentingnya ilmu pengetahuan, inovasi dan teknologi dalam memajukan bangsa. "Tanpa Iptek, laut hanyalah sebuah hamparan air yang berwarna biru. Namun, dengan iptek yang dikuasai oleh-oleh anak bangsa sendiri, akan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan mengangkat harkat hidup seluruh rakyat", jelasnya.

 

Mengutip pernyataan Presiden RI Pertama, Ir.Soekarno pada 6 Oktober 1966 diatas geladak kapal selam RI Tjandrasa, ”Sejarah telah membuktikan kepada kita bahwa Kebesaran, Kejayaan, Kesentausaan dan Kemakmuran Negara Kita Hanya Dapat Dicapai Apabila Kita Menguasai Lautan”, Indroyono sangat yakin Indonesia akan menjadi negara maju.

 

"Indonesia memiliki laut seluas 5.8 juta kilometer persegi, terdiri 3.1 juta kilometer persegi laut teritorial dan 2.7 juta kilometer persegi Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) ditambah daratan seluas 1.9 juta kilometer-persegi.  Disamping itu, masih ada lagi wilayah Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia (ZEEI) yang 200 mil menjorok dari pantai, seluas 2.7 juta kilometer persegi, dimana Indonesia memiliki hak ekonomi terhadap potensi sumberdaya diatas air, didalam air, didasar laut dan dibawah dasar lautnya.  Serta, apabila para ahli kita, para ilmuwan kita dan para perekayasa kita mampu membuktikan secara ilmiah bahwa lapisan sedimentasi dari pantai menerus hingga 350 mil dari pantai, maka sumberdaya ekonomi hingga 350 mil dari pantai adalah milik kita juga" tegasnya.

 

Sebuah negara, lanjut Indroyono, walau tanpa sumberdaya alam akan menjadi negara maju apabila menguasai IPTEK. Indonesia memiliki itu semua (sumberdaya alam dan teknologi) dan sudah mencontohkannya sejak awal.  Bangsa Indonesia sudah berinvestasi untuk pengembangan sumberdaya manusia iptek sejak dekade 1950-an.

 

"Tahukah Anda bahwa manusia pertama menggapai ruang angkasa pada bulan April 1961 adalah Kosmonaut Uni Sovyet Yuri Gagarin dan disusul Astronaut Alan Shepard dari Amerika Serikat pada Mei 1961?.  Indonesia meluncurkan roket pertamanya, yaitu Roket Kartika I pada tahun 1964, hanya tiga tahun setelah manusia menggapai ruang angkasa. Sedang Pusat Reaktor Atom Bandung diresmikan pada tahun 1965.  Jelas, kala itu di bidang iptek, kita disegani Dunia.  Bisa dibayangkan, apabila roket Kartika tadi dipasangi hulu ledak nuklir buatan Bandung ?. Tentu, akan sangat menggentarkan Dunia.

 

Di bidang rekayasa, telah dibangun jembatan semanggi dengan arsitektur ramping menggunakan ”pre-stressed concrete theory”, serta stadion utama senayan yang menjadi salah satu stadion olahraga dengan atap ”Temu Gelang” tanpa penyangga, yang terbesar di Dunia.  Konstruksi Karya Anak Bangsa bermunculan seperti ”Sistem Pondasi Cakar Ayam”, ”Sistem konstruksi Jalan Layang Sosrobahu”, Masjid Istiqlal dengan arsitektur kubahnya tanpa pillar beton, dan lain lain.   Pada tahun 1976 diluncurkan Sistem Komunikasi Satelit Domestik (SKSD) Palapa yang menempatkan Indonesia menjadi negara ketiga di Dunia, setelah Amerika Serikat dan Kanada dalam penerapan teknologi sistem komunikasi satelit domestik.

 

Lintasan sejarah iptek Indonesia dilanjutkan lewat peluncuran pesawat komuter 50 penumpang N-250 PA-1 Gatotkaca dan N-250 PA-2 Krincing Wesi  dengan teknologi mutakhir ”fly by wire”, pada 10 Agustus 1995,  menjadikannya pesawat turbo-prop pertama di Dunia yang memiliki sistem ini.  Hadir pula produk-produk industri seperti: pesawat terbang CN-212, CN-235 Tetuko, Helikopter NBO-105, Helikopter NAS-332 Super Puma dan Helikopter NBELL-412, Kapal-Kapal Maruta Jaya, Baruna Jaya, Caraka Jaya dan Palwo Buwono, juga kereta api cepat Jakarta-Surabaya Sembrani, Panser Anoa, Panser Berkanon Badak, Kendaraan Taktis Komodo serta Senapan Serbu SS-1, SS-2, dan SS-3 yang melegenda, ataupun 5 jembatan antar-pulau Batam-Rempang-Galang dengan rancang bangun jembatan yang berbeda-beda guna menyongsong Proyek Jembatan Antar-Pulau Trinusa Bima Sakti. Itulah sebagian kecil karya perekayasa Indonesia, karya para insinyur Dalam Negeri", paparnya.

 

Indroyono berharap, peran besar perekayasa mendapat keberpihakan, dukungan dan perlindungan dari Pemerintah. Harus ada insentif untuk perekayasa, peneliti dan pelaku iptek di tanah air.  "Para perekayasa dan para insyinur memiliki tanggung jawab moral yang besar untuk membangun negeri ini dengan mental dan semangat pejuang. Layar sudah kita kembangkan, niat telah kita teguhkan, tiada pilihan lain selain maju kedepan guna menghadapi semua tantangan.  Insya Allah, dengan ridhlo Tuhan Yang Maha Kuasa, kita pasti bisa dan berhasil", pungkasnya di akhir orasi. (Humas/HMP)