11482
Hits

KEBERPIHAKAN PADA OBAT HERBAL

‚Indonesia memiliki lebih dari 30 ribu spesies tanaman dan baru 1000 spesies yang sudah teridentifikasi. Dengan jumlah yang luar biasa tersebut, mempertegas Indonesia akan kekayaan hayati yang dimiliki‚, ungkap Deputi Kepala BPPT Bidang TAB, Wahono Sumaryono, diruang kerjanya, Kamis (18/03).

Menurutnya, industri obat herbal Indonesia mengalami kenaikan sekitar 20% pertahun, diatas pertumbuhan industri obat modern yang hanya sekitar 12% pertahun. ‚Meski demikian, obat modern mampu menguasai 60% market share dengan nilai yang mencapai 60 triliun rupiah, jauh mengungguli nilai yang dicapai obat herbal yang mencapai 10-12 triliun rupiah‚.

Kurangnya sosialisasi atau promosi akan khasiat yang terkandung didalam obat herbal, minimnya pengetahuan dokter terhadap kegunaan dan manfaat dari obat herbal serta tingginya nilai investasi yang harus dikeluarkan, diyakini Wahono sebagai beberapa kendala yang dihadapi industri obat herbal Indonesia untuk dapat berkembang.

‚Fakultas kedokteran di Indonesia tidak memasukan unsur obat herbal kedalam kurikulumnya. Jadi dokter di Indonesia tidak mendapat pengetahuan akan hal itu. Terlebih lagi, dokter membutuhkan suatu bukti nyata akan keberhasilan suatu obat sebelum meresepkan pada pasien. Di China, mereka mempunyai Traditional Chinese Medicine (TCM) yang menjadi ujung tombak dalam mengembangkan industri herbal mereka. Bahkan negara maju seperti Jerman pun memiliki. Tapi mengapa di Indonesia sendiri malah tidak?‚, kata Wahono.

Direktur Pusat Teknologi Farmasi dan Medika (PTFM) BPPT, Rifatul Widjhati, yang juga hadir dalam wawancara, turut berkomentar. ‚Kami di BPPT menyadari bahwa potensi obat hebal untuk dikembangkan sangatlah besar. Selain melakukan joint research dengan pihak industri obat herbal, PTFM juga telah mengembangkan beberapa formula obat herbal seperti obat anti diabet, obat untuk asam urat dan anti kolesterol. Beberapa dari industri yang ada di Indonesia telah memakai formula tersebut, dan sekarang pun sudah beredar di masyarakat‚.

Rifatul menambahkan, selain mengembangkan formula, pihaknya juga memberikan layanan-layanan lain yang dibutuhkan oleh industri obat herbal Indonesia, antara lain yakni pembuatan design alat, pengujian formula dan teknologi proses.

‚Untuk membangun industri obat herbal yang kuat sekaligus mengembangkan potensi yang ada, dibutuhkan koordinasi yang kuat dengan banyak pihak. Pendekatan-pendekatan pun perlu dilakukan secara sistematis dan menyeluruh. Mulai dari pendekatan dalam hal science, industri, hingga pada pendekatan pendidikan dan pendekatan dagang. BPPT hanya dapat terlibat dalam pendekatan science. Butuh dukungan dan keberpihakan semua pihak, untuk dapat memajukan industri obat herbal Indonesia‚, tegas Wahono. (KYRA/humas)