5762
Hits

KERJASAMA 16 LEMBAGA WUJUDKAN KEMANDIRIAN VAKSIN DAN BAHAN BAKU OBAT

Penandatanganan ini merupakan wujud kepedulian dan tanggung jawab pemerintah terhadap kebutuhan masyarakat akan vaksin yang saat ini semakin besar. Pengembangan Vaksin dan Bahan Baku Obat antara Kementerian Kesehatan dengan 16 lembaga. Keenambelas lembaga tersebut diantaranya yaitu Kementerian Riset dan Teknologi, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Lembaga Eijkman, Institut Teknologi Bandung, Universitas Padjadjaran, Universitas Indonesia, Universitas Gadjah Mada, Universitas Sebelas Maret, Universitas Airlangga, Universitas Brawijaya, Universitas Hasanuddin, Universitas Al Azhar Indonesia, PT. Bio Farma (Persero), PT. Indofarma (Persero) Tbk.

Pada kesempatan yang sama Menteri Riset dan Teknologi, Gusti Muhammad Hatta menyampaikan bahwa kerjasama ini merupakan langkah bersama dalam upaya meningkatkan kemandirian nasional di bidang penguasaan teknologi dan produk kesehatan dan obat-obatan. Diutamakan dalam pengembangan vaksin TB, Hepatitis B dan Influenza. Selain itu kerjasama riset ini juga selaras dengan Sistem Inovasi Nasional kesehatan dan obat yang memperhatikan penguatan iptek dengan melibatkan semua unsur baik perguruan tinggi, lembaga litbang maupun badan usaha, tambahnya.

Tantangan yang ada ke depan, lanjutnya, adalah perlunya pengembangan dan penyebarluasan vaksin generasi baru dengan harga terjangkau. Oleh karena itu saya berharap penandatanganan kesepakatan bersama ini dapat menjadi wadah dalam membangun sinergi seluruh potensi nasional yang ada, jelasnya.

Senada dengan Menristek, Menteri Kesehatan, Endang Rahayu Sedyaningsih mengungkapkan perlunya pengembangan vaksin generasi baru. Memang saat ini kita sudah berhasil memproduksi vaksin, namun ke depannya dengan semakin berkembangnya penyakit maka vaksin pun perlu terus kita kembangkan. Kendala yang saat ini ada yaitu dengan bertambahnya jumlah vaksin yang ada, belum tentu dapat diterima dengan mudah oleh masyarakat. Sehingga selain vaksin, perlu dikembangkan pula teknologi untuk mendeliverkan vaksin tersebut kepada masyarakat. Misalnya ke depannya pemberian vaksin tidak perlu disuntikkan tetapi hanya ditempelkan saja, ungkap Endang.

Berkaitan dengan bahan baku obat nasional, Endang berpendapat perlu adanya bulog jamu yang dapat menjamin ketersediaan bahan baku obat yang selama ini masih banyak diimpor. Hal lain yang perlu menjadi bahan perhatian adalah perlunya dikaji apakah alat diagnostik yang kita miliki selama ini sudah cukup memadai? Perlu dikembangkan lagi alat diagnostik yang dapat mendiagnosis penyakit dari awal bakteri maupun virus menyerang tubuh, jelasnya. (SYRA/humas)