4088
Hits

Kolaborasi Kemenperin-BPPT Guna Perkuat Hilirisasi Produk Karet Alam

 

"Sayangnya, saat ini konsumsi karet alam domestik untuk diproduksi menjadi barang-barang karet baru mencapai 18 persen dari total produk nasional. Tingkat konsumsi domestik karet Indonesia masih jauh di bawah negara Malaysia, China dan India, yang sudah mencapai 40 persen," kata Saleh Husin, di acara Pembukaan Pameran Produk Karet Hilir, di Kementerian Perindustrian, Jakarta, (11/5).

 

Saleh menambahkan, akibat masih kecilnya tingkat konsumsi karet alam domestik membuat pemerintah memandang perlu dilakukan langkah-langkah baru untuk meningkatkan konsumsi karet alam nasional dalam rangka meningkatkan nilai tambah potensi sumber daya alam nasional.

 

"Kementerian Perindustrian mendukung dilakukannya pengembangan industri barang karet dan hilirisasi industri karet melalui beberapa kebijakan. Seperti penguatan struktur industri barang karet, pemberian insentif untuk industri berteknologi tinggi, pengembangan kawasan industri dan mendorong investasi karet sintetis dan kimia karet," jelas Saleh.

 

Sementara, Kepala BPPT Unggul Priyanto mengatakan bahwa lembaga BPPT siap meningkatkan konsumsi domestik karet alam dengan menyiapkan rekayasa teknologi untuk pengolahan karet. Tujuannya agar industri bisa menggunakan produk hilirisasi hasil dari karet alam.

 

"BPPT sebagai lembaga pemerintah tentunya selalu siap membantu terutama yang menyangkut teknologi. Dalam hal karet, ada unit di BPPT yang khusus mengembangkan teknologinya, yaitu Pusat Teknologi Material, Balai Pengkajian Teknologi Polimer, Pusat Teknologi Industri Proses dan Balai Pengkajian Bioteknologi.  BPPT juga memiliki laboratorium pengolahan dan analiasa kompon karet dan sudah menghasilkan rekayasa rubber air bag dan pipa apung ber-SNI," jelas Unggul.

 

Dalam hal hilirisasi karet, Kepala BPPT menambahkan, BPPT sangat terbuka untuk bekerjasama dan memang selalu mengajak industri karena dia (industri) adalah yang paling tahu produk apa yang dibutuhkan. Dengan semakin meningkatnya hilirisasi maka akan makin banyak menyerap produk dari karet alam.

 

"Saat ini yang penting dilakukan adalah mencari cara agar karet alam mampu bersaing dengan karet sintetis. Misalnya dengan merekayasa karet yang tahan terhadap minyak sehingga bisa dipakai di sil-sil mesin yang umumnya mengandung oli dan suhunya tinggi. Juga karet yang tahan terhadap tekanan mekanik tinggi, seperti karet untuk ban pesawat yang tahan terhadap hentakan tinggi.

 

"Itu merupakan suatu tantangan kedepan. BPPT sudah memiliki dasar rekayasa teknologi untuk membuat ban pesawat, kita akan terus berusaha untuk dapat membuat ban pesawat. Dalam waktu dekat, kita (BPPT) bersama salah satu perusahaan ban swasta akan mengembangkan ban pesawat berbahan baku karet alam," tutup Kepala BPPT. (Humas)