6073
Hits

Kualitas Air Tanah Nasional Cenderung Rendah, BPPT Beri Solusi Ketersediaan Air Layak Minum 

 

Untuk mengatasi masalah tersebut, BPPT sebut Rudi, telah mengkaji terap Teknologi Biofiltrasi dan  Teknologi Ultrafiltrasi. Kedua teknologi yang dihasilkan oleh Pusat Teknologi Lingkungan BPPT tersebut diyakini Rudi dapat meningkatkan kualitas air baku yang tercemar limbah domestik, untuk  selanjutnya diolah menjadi air siap minum.  "Teknologi ini diharapkan dapat menjadi solusi permasalahan ketersediaan air minum yang layak dan bersih di Indonesia," tegas Rudi.

 

Target universal access atau akses 100% terhadap sumber air minum yang aman lanjutnya, bukanlah hal mudah yang bisa dicapai. Kendala utama yang dihadapi adalah kualitas air baku yang semakin menurun karena beban pencemaran yang semakin tinggi. "Secara jumlah, sering kali kita menghadapi kekurangan air baku terutama pada musim kemarau, sementara di musim hujan kita menghadapi masalah banjir," paparnya.

 

Institusi penyedia Air Minum atau PDAM tutur Rudi, juga memiliki berbagai kendala. Banyak PDAM  harus menanggung harga produksi yang lebih tinggi daripada tarif atau harga air dari masyarakat. Masalah berikutnya adalah tingkat kebocoran yang masih cukup tinggi yakni rata-rata 33%.  Selain itu sambungnya, masih banyak masyarakat yang tidak terjangkau oleh sistem perpipaan PDAM yang tinggal di daerah pesisir maupun pelosok yang kualitas air bakunya kurang memadahi seperti gambut atau bahkan payau/asin.

 

"Untuk mengatasi hal tersebut, perlu lompatan besar dan sinergi yang kuat semua pihak, baik pemerintah pusat, pemerintah daerah, pihak swasta, maupun masyarakat untuk memberikan solusi konkrit," ujarnya di hadapan awak media.

 

Rudi juga mengungkapkan bahwa BPPT terus mengembangkan berbagai teknologi untuk memberikan solusi peningkatan akses air minum. "Selain teknologi Biofiltrasi dan Ultrafiltrasi untuk perbaikan kualitas air baku PDAM, BPPT juga mengkaji terap teknologi online monitoring untuk pengendalian pencemaran air baku, teknologi daur ulang air limbah untuk substitusi kebutuhan air bersih, serta teknologi pengolahan air gambut maupun air payau/asin untuk masyarakat terpencil serta daerah perbatasan," pungkasnya. (Humas/HMP)