7015
Hits

MARZAN A ISKANDAR RAIH PENGHARGAAN HONORARY FELLOWSHIP

Administrator
20 Dec 2012
Berita Lainnya

Tidak hanya Kepala BPPT yang mendapat penghargaan, Pusat Teknologi Industri Proses (PTIP) BPPT  juga meraih Winner Asean Engineer Award dari AFEO. Berdasarkan usulan dari Persatuan Insinyur Indonesia (PII),  Pengusulan tersebut dikarenakan PTIP BPPT merupakan pemenang 1 kategori Adhicipta Rekayasa PII Enginerring Award 2010, dengan hasil karya “Pengembangan Teknologi Manufaktur Pipa Apung untuk Transportasi Fluida”.

Pengembangan Pipa apung tersebut dihasilkan dari hasil riset yang mengoptimalkan sumber daya lokal tanpa mengurangi kualitas produk yang dihasilkan. Dengan dihasilkannya desain, prototipe dan produk komersial, maka industri hilir karet Indonesia telah dapat membuat produk pipa apung, sehingga ketergantungan akan produk impor secara bertahap dapat dikurangi.

Adapun AFEO ini merupakan sebuah organisasi yang sudah berdiri sejak 1973 yang berkembang dari lima pelopor organisasi yaitu Persatuan Insinyur Indonesia (PII), The Institution of Engineers, Malaysia (IEM), The Philippine Technological Council (PTC), The Institution of Engineers Singapore (IES) dan The Engineering Institution of Technology (EIT). Mulai 1998 hingga sekarang, AFEO memulai misi yang sangat penting dengan tujuan untuk menjadi ujung tombak dan memfasilitasi mobilitas insinyur dalam ASEAN Free Trade Area.

Konferensi yang bertema “Advantage of The Integration of Engineering Services for Least Developed Asean Member Countries” tersebut berlangsung di masing-masing negara anggota organisasi setiap tahunnya. Dan pada tahun ke 30 ini Kamboja terpilih menjadi tuan rumah karena pemilihan disesuaikan dengan alphabet dari nama-nama tiap negara.

Honorary Fellowship merupakan penghargaan tingkat ASEAN yang diberikan AFEO atas dedikasi dan pengabdian yang dilakukan seseorang dalam dunia profesi Insinyur. Kepala BPPT mendapat penghargaan karena dianggap merupakan tokoh yang telah banyak berperan dan berjasa besar, dalam kemajuan dunia keteknikan di negara-negara ASEAN. Tidak sembarangan orang bisa menerima penghargaan tersebut karena mekanisme pemberian penghargaan sangat ketat. Yakni harus diusulkan oleh beberapa negara, baru setelah itu disetujui oleh 10 negara anggota AFEO.

Sementara itu pipa apung yang menjadikan PTIP mendapatkan penghargaan Winner Asean Engineer Award, telah dikembangkan oleh BPPT sejak tahun 2003. Dalam proses pengembangannya, BPPT telah membuat pipa apung berdasarkan komponen yang sudah ada sebelumnya lalu meredesain (reverse engineering). Dari hasil kajiannya, BPPT mengoptimalkan bahan baku dalam negeri dengan menggunakan karet alam.

Perbedaan utama hasil kaji BPPT terletak pada modifikasi dari desain strukturnya. Pipa apung yang diproduksi dibuat berlapis-lapis dan berdiameter dalam sekitar 6-26 inci dengan panjang 6-12 meter per unit. Selain karet, produk pipa apung membutuhkan material pendukung diantaranya kawat baja, kawat sling (kawat berukuran kecil) dan flanges ansi serta media pengapung (sponge) untuk menjaga tetap terapungnya pipa saat dialiri material seperti pasir atau minyak yang tergantung pada berat jenisnya (BJ). Pipa apung buatan Indonesia memiliki kandungan lokal sekitar 90%-95%. Di tahun 2008, BPPT telah menghasilkan pipa apung untuk mengalirkan pasir yang digunakan oleh PT. Tambang Timah yang sudah diujicobakan di Malaysia untuk proyek pengerukan selat sebagai tempat bersandarnya kapal-kapal. Selanjutnya tahun 2010 dengan target membuat pipa apung khusus minyak, telah dilakukan ujicoba  aplikasi pipa apung yang dikirim ke Balikpapan. Saat ini pipa apung buatan Indonesia berhasil memenuhi persyaratan Oil Company International Marine Forum (OCIMF)-91. (SRRA/humas)