505
Hits

Melalui Uji Aerodinamika dan HVAC , BPPT Siap Majukan Kemandirian Industri Nasional

Pertumbuhan penumpang terus meningkat pesat sesuai dengan meningkatnya populasi dan aktifitas ekonomi sehingga berdampak pada meningkatnya kemacetan, terutama di kota-kota besar yang tidak bisa diatasi dengan hanya mengandalkan moda transportasi bus, truk, kendaraan roda empat dan roda dua. Isu energi dan dampak lingkungan juga harus mendapat perhatian dalam kebijakan pengembangan transportasi.

 

Oleh karena itu Pemerintah Indonesia melalui Rencana Induk Perkeretaapian Nasional (RIPNAS) mentargetkan untuk menaikkan jaringan kereta nasional sebesar tiga kali lipat dari yang ada saat ini dengan target peningkatan jumlah penumpang secara nasional sebesar 11-13%.

 

Kebijakan ini juga menjadi trend perkembangan moda transportasi secara global di berbagai negara terutama negara-negara maju dimana pembangunan infrastruktur kereta api global telah meningkat secara pesat ditambah dengan perkembangan teknologi perkerataapian dunia yang mengarah pada kereta cepat dan teknologi propulsi berbasis listrik, baterai maupun antisipasi energi baru lainnya di masa depan.

 

Seperti diketahui, BPPT ditunjuk sebagai koordinator konsorsium dan telah mengajak serta melibatkan berbagai kementerian, lembaga litbang dan perguruan tinggi. Adapun dukungan pendanaan diperoleh dari DIPA BPPT dan anggaran LPDP yang dikoordinasi oleh BRIN. Pada tahun 2020, riset mask of car dan desain HVAC telah memperoleh pendanaan dari LPDP.

 

Pemerintah Indonesia dalam upaya alih teknologi akan lebih meningkatkan kapasitas sumber daya manusia di bidang perkeretaapian baik di lembaga penelitian, pengembangan, pengkajian dan penerapan teknologi dan industri terkait, kata Deputi Bidang Teknologi Industri Rancang Bangun dan Rekayasa (TIRBR) BPPT, Wahyu Widodo Pandoe diacara webinar dengan judul Desain Uji Aerodinamika dan HVAC Kereta Api Cepat (16/06).

 

Inovasi teknologi perkeretaapian telah ditetapkan menjadi salah satu Prioritas Riset Nasional (PRN) dan menjadi salah satu flagship BPPT. Dari sisi desain mask of car, BPPT sebut Wahyu berkolaborasi dengan ITS dan pembuatan prototipe model mask of car kereta tersebut diperlukan sebagai tahapan verifikasi desain dengan pengujian di terowongan angin.

 

Selain eksterior, optimasi desain interior perlu dilakukan sehingga didapatkan desain yang mampu menjamin keselamatan dan keamanan penumpang selama kereta api cepat beroperasi, ujar Wahyu.

 

Disamping itu, tujuan dari riset mask of car ini adalah untuk melakukan kajian tentang aspek aerodinamika pada komponen mask of car dan carbody pada High Speed Train untuk mendapatkan coefficient drag yang rendah sehingga lebih efisien untuk peningkatan kecepatan kereta. Jeas wahyu

 

Sementara, Direktur PTSPT Sinung Harjono menyampaikan, bahwa dari keseluruhan hasil desain mask of car dan Heating Ventilation Air Conditioning (HVAC) yang dikembangkan dalam riset ini bisa direkomendasikan untuk kereta api cepat Indonesia.

 

Riset ini masih tahap awal dari perjalanan panjang menuju prototipe, pengujian dan hilirisasi, sehingga masih memerlukan tahap lanjutan dan dukungan semua pihak, punkasnya. (Humas BPPT)