9107
Hits

MENANGKAP PELUANG NANOTEKNOLOGI

‚Pengembangan fuel cell di PTM telah dilakukan sejak tahun 2007 lalu. Hasilnya, kita telah mampu mengembangkan beberapa modul fuel cell dengan hidrogen berkapasitas 5 watt sampai 1 kilowatt‚, tutur perekayasa bidang polimer rekayasa, Eniya Listiani Dewi, Selasa (27/04).

‚Kita bahkan telah berhasil mengaplikasikan fuel cell pada motor dengan kapasitas 500 watt. Hasilnya motor lebih irit dari segi konsumsi bahan bakar dan ramah lingkungan karena dapat mereduksi pengeluaran karbondioksida hingga 78% dibandingkan motor biasa‚, tambahnya.

Prinsip kerja fuel cell adalah proses elektrokimia di mana hidrogen dan oksigen digunakan sebagai bahan bakar. Komponen utama fuel cell terdiri dari elektrolit berupa lapisan khusus yang diletakkan di antara dua buah elektroda. Proses kimia yang disebut pertukaran ion terjadi di dalam elektrolit ini dan menghasilkan listrik serta air panas. Fuel cell menghasilkan energi listrik tanpa adanya pembakaran dari bahan bakarnya, sehingga tidak ada polusi.

‚Lapisan yang diletakkan diantara dua elektroda itulah yang kita kembangkan dengan menggunakan nanoteknologi. Kelemahan dari lapisan yang selama ini digunakan dalam modul fuel cell yaitu lapisan tidak mampu bertahan dalam suhu yang tinggi, sehingga kinerja fuel cell menjadi tidak efektif‚, lanjut Eniya.

Berkolaborasi dengan industri swasta yang bergerak dalam bidang polimer, PTM mencoba mengembangkan produk polimer yang biasanya berfungsi sebagai coating dengan sifat isolator menjadi konduktor. ‚Dengan proses sulfunasi yang kita lakukan terhadap polimer tersebut, kita dapat mengubahnya menjadi konduktor yang bisa digunakan dalam fuel cell‚.

Lebih jauh Eniya mengatakan, proses sulfunasi pada polimer ini bertujuan untuk mensubstitusi penggunaan polimer komersial yang dalam pemanfaatannya tidaklah efisien. ‚Polimer untuk fuel cell yang ada dipasaran berharga cukup tinggi, padahal dalam fuel cell kemungkinan untuk terjadi drop pada membran selalu ada. Dengan membran yang kita kembangkan dari hasil sulfunasi polimer ini, kita mendapatkan membran dengan harga yang lebih murah dan fuel cell pun menjadi tahan lama karena mampu bertahan dalam suhu yang tinggi‚.

Berbicara tentang perkembangan nanoteknologi di Indonesia, Eniya menjawab bahwa dari segi penyediaan sarana dan prasarana sudah banyak terpenuhi, hanya saja belum diiringi dengan kemampuan industri manufaktur.

‚Sudah ada beberapa produk di Indonesia yang memanfaatkan teknologi nano untuk diaplikasikan pada produknya, seperti misalnya produk susu dan raket tenis. Namun, pengembangan nanoteknologi tidak diiringi dengan kemampuan manufaktur dalam menangkap peluang yang dihasilkan dari nano teknologi. Seharusnya, industri manufaktur Indonesia mulai melirik kepada produk yang berbasis teknologi nano. Dengan rekayasa nano, akan tercipta produk-produk dengan nilai jual tinggi dan mampu bersaing dengan produk luar negeri‚, tegas Eniya. (KYRA/humas)