3694
Hits

Menuju Pemanfaatan Energi Ramah Lingkungan BPPT Gelar Temu Mitra Energi

 

 

"Untuk itu kebijakan energi nasional dilakukan dengan mengubah paradigma dalam memandang sumber energi dari sebagai komoditas menjadi modal pembangunan," katanya di sela-sela Energy Partners Gathering B2TE-BPPT bertema Clean Energy for Brighter Future di Auditorium BPPT, Jakarta, Selasa (1/12).

 

BPPT lanjut Unggul, melalui Balai Besar Teknologi Energi (B2TE), memiliki program untuk menyusun rekomendasi dan memberi masukan terkait teknologi apa saja yang harus dikembangkan dan diterapkan untuk mencapai target elastisitas energi tersebut.

 

"Ada lima fokus kegiatan guna mencapai tujuan tersebut yaitu riset mengenai batere, kogenerasi, boiler ultra kritikal untuk pembangkit listrik, pengembangan dan penerapan sistem manajemen energi serta Wind Hybrid Power Generation," ucapnya.

 

Di tempat yang sama, Direktur Jenderal Penguatan Inovasi Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi  Jumain Appe mengungkapkan saat ini elastisitas energi Indonesia masih di atas 1 persen per kapita. "Artinya penggunaan energi masih terbilang tidak efisien," cetusnya.

 

Untuk memenuhi kebutuhan listrik masyarakat, Jumain merujuk Perpres No 5 Tahun 2006 yang menyebut kebijakan energi di tahun 2025 mencantumkan pemenuhan pembangkit listrik 49.000 megawatt (Mw) dan lima tahun ke depan ditargetkan penyediaan 35.000 Mw listrik.

 

"Dalam pemenuhan itu 35 persennya porsi batubara dan jumlah batubara yang dibutuhkan besar. Di sisi lain sumber energi ini polutif. Kalau kita ingin kembangkan harus buang kandungan polusi, bisa melalui gasifikasi maupun pencairan batubara," ungkapnya.

 

Oleh karenanya ia berharap batubara yang akan digunakan sudah mendapat sentuhan teknologi sehingga menjadi sumber energi bersih.

 

"Sebab dalam konferensi perubahan iklim dunia (COP) 21 dimunculkan komitmen inovasi hijau (green innovation) termasuk pengembangan dan pembangunan energi kelistrikan," pungkasnya. (Humas)