21876
Hits

PENERAPAN TEKNOLOGI PRODUKSI BERSIH, SOLUSI HEMAT ENERGI

‚Sejak tahun 1990-an BPPT telah mengembangkan konsep teknologi produksi bersih yang pada awalnya diperkenalkan oleh UNEP (United Nations Environment Program) pada 1989/1990 ini. Prinsip utamanya yaitu mencegah terjadinya polusi (pollution prevention) dengan menggunakan proses produksi bersih (cleaner production). Kemudian konsep produksi bersih ini berkembang menjadi produksi bersih untuk efisiensi energi, yaitu pelaksanaan efisiensi energi melalui produksi bersih‚, jelas Ketua Tim Efisiensi Energi Pusat Pengkajian dan Penerapan Teknologi Lingkungan BPPT Widiatmini (12/11).

Teknologi produksi bersih ini, menurut Widiatmini, telah diterapkan di beberapa industri besar di Indonesia, diantaranya Indocement, Krakatau Steel, Holcim, dan Indonesia Power. Dengan menerapkan Teknologi Produksi Bersih ini, industri-industri tersebut bisa melakukan efisiensi, baik dalam biaya produksi, maupun dalam penggunaan bahan baku. "Penerapan teknologi produksi bersih secara terus menerus dan konsisten, dapat menghemat energi nasional dan juga dapat membantu industri untuk mengefisiensikan penggunaan energi dan bahan baku sekitar 15% sehingga secara tidak langsung juga dapat meningkatkan keuntungan industri karena penghematan biaya energi", katanya.

Widiatmini menjelaskan bahwa pelaksanaan tahapan dalam teknologi produksi bersih ini diawali dengan dilakukannya evaluasi secara menyeluruh terhadap proses produksi dan peralatan yang digunakan. Kemudian dilakukan kajian teknis yang biasanya diutamakan pada daerah-daerah yang paling boros. Setelah pengkajian studi kelayakan secara teknis, ekonomis dan lingkungan ini, akan muncul saran perbaikan yang dapat dilakukan oleh industri. Saran tersebut dapat berupa good housekeeping, perbaikan alat maupun fasilitas, mengganti sebagian alat-alat maupun penggantian seluruh alat-alat dalam proses produksi.

Prinsip-prinsip produksi bersih diantaranya yaitu, (1) Dirancang secara komprehensif dan pada tahap sedini mungkin. Produksi bersih dipertimbangkan pada tahap sedini mungkin dalam pengembangan proyek-proyek baru atau pada saat mengkaji proses atau aktifitas yang sedang berlangsung. (2) Bersifat proaktif, harus diprakarsai oleh industri dan kepentingan-kepentingan yang terkait. (3) Bersifat fleksibel, dapat mengakomodasi berbagai perubahan, perkembangan dibidang politik, ekonomi, sosial budaya, ilmu pengetahuan dan teknologi dan kepentingan berbagai kelompok masyarakat, serta (4) Perbaikan yang berkelanjutan.

Selama ini BPPT telah melakukan sosialisasi dan diseminasi teknologi produksi bersih untuk efisiensi energi ini dengan melalui pelatihan-pelatihan, kajian dan penerapan langsung ke industri, sehingga dapat memberikan kesadaran dan pengertian pada industri maupun pihak pengguna teknologi produksi bersih lainnya bahwa penerapan program ini tidak selalu mahal. ‚Saya harap tidak hanya sektor industri saja yang menerapkan teknologi produksi bersih ini, pemerintah maupun masyarakat pada umumnya juga sebenarnya dapat menerapkan teknologi ini. Saya yakin dengan penerapan teknologi produksi bersih di semua sektor akan dapat mengurangi konsumsi energi secara berlebih‚, ungkap Widiatmini. (YRA/humas)