2437
Hits

Perkuat Sistem Peringatan Dini Tsunami Melalui Kemandirian Teknologi

Administrator
10 Dec 2020
Layanan Info Publik

BPPT, BMKG, BIG, PVMBG-Badan Geologi, Kementerian ESDM mendapat Penugasan Nasional melalui Perpres No. 93 Tahun 2019 untuk Memperkuat dan Mengembangkan Sistem Informasi Gempa Bumi dan Tsunami di Indonesia.

 

Melalui Perpres tersebuti, Kepala BPPT Hammam Riza mengatakan bahwa BPPT telah dan sedang membangun dan mengembangkan Sistem Peringatan Dini Tsunami yang kita sebut “Teknologi InaTEWS Merah Putih” berbasis Teknologi Buoy, Teknologi Kabel Optik Bawah Laut, Teknologi Tomografi dan Pemodelan serta Kecerdasan Artifisial InteleTsunami sejak tahun 2019 lalu dalam rangka mendukung InaTEWS Nasional yang ada di BMKG.

 

Banyaknya wilayah Indonesia yang memiliki potensi gempa dan tsunami, karakteristik pembangkit tsunami, sosio kultural masyarakat pesisir terhadap keberadaan teknologi observasi laut InaTEWS menjadi salah satu tantangan bagi perekayasa dan peneliti BPPT dalam merealisasikan penugasan tersebut, kata Hammam diacara Seminar Nasional InaTEWS BPPT dengan tema Peningkatan Kemandirian Teknologi dan Ketahanan Terhadap Bencana Tsunami yang dilakukan secara daring (10/12).  

 

Berkoordinasi dengan BMKG, Hammam menyebut, BPPT telah menyusun Grand Design, Road Map dan Kebutuhan Anggaran Secara Nasional sejak tahun 2019-2024 dengan target kinerja yaitu terbangun dan beroperasinya Sistem Inabuoy di 13 lokasi, Sistem InaCBT di tujuh Lokasi, Sistem InaCAT/Tomografi di tiga Lokasi dan satu Sistem AI-Tsunami di Indonesia.

 

Melalui webinar ini diharapkan menjadi ajang diskusi dan bertukar pikiran dalam hal referensi, kritik dan masukan. Sehingga target-target di dalam grand design dan road map yang telah disusun dapat tercapai tepat waktu dan memberikan kontribusi bagi penguatan sistem peringatan dini tsunami nasional, ujarnya.

 

Sementara, Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati mengapresiasi inovasi yang telah dihasilkan untuk keselamatan masyarakat Indonesia dari bahaya tsunami. Sistem peringatan dini tsunami telah dibangun sejak 2008 termasuk tim konsorsium yang didukung BPPT, LIPI dan beberapa perguruan tinggi

 

Lebih lanjut dikatakannya, sistem tersebut didesain dan dibangun karena kejadian gempa bumi yang membangkitkan tsunami di Aceh. Sehingga sistem yang dibangun saat itu diberikan peringatan dini berdasarkan sinyal gelombang gempa. Jadi hanya terbatas tsunami yang diakibatkan gempa bumi, jelasnya.

 

Dwikorita juga menceritakan disaat itu, dalam membangun sistem tersebut bekerjasama dengan Jepang, Jerman dan Amerika yang fokus pada tsunami dibangkitkan hanya pada gempa sehingga di tahun 2018 sistem tersebut tidak dapat mendeteksi tsunami yang tidak diakibatkan gempa.

 

Seperti saat terjadi tsunami langka yang diawali gempa akibat patahan geser yang ada dekat pantai, artinya tidak didasar laut yang akhirnya sistem terebut tidak bekerja karena tidak didesain untuk itu, karena tidak diperkuat oleh internet of thing untuk mendesain tsunami yang diakibatkan oleh gempa bumi, pungkasnya. (Humas BPPT)