697
Hits

Perlu Strategi Percepatan EBT Menuju Kemandirian Energi Nasional

Administrator
28 Jul 2021
Layanan Info Publik

BPPT sebagai salah satu penyelenggara IPTEK memiliki peran melaksanakan perekayasaan, kliring teknologi, audit teknologi, alih teknologi, difusi teknologi, serta komersialisasi teknologi. Ketujuh peran ini merupakan amanat dari Undang-undang Nomor 11 Tahun 2019. Sistem Nasional Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (UU SISNAS IPTEK), kata Kepala BPPT Hammam Riza di hari ke dua acara Pekan Inovasi Energi Baru Terbarukan (EBT) yang digelar secara daring (28/07).

 

Hammam menyebut, peran ekosistem inovasi teknologi di bidang energi akan menjadi kunci keberhasilan Indonesia mencapai target pemanfaatan EBT, terlebih biaya pembangunan infrastrukturnya memiliki tren menurun setiap tahunnya. “Oleh karena itu, peluang ini harus dimanfaatkan dan memiliki potensi yang sangat besar jika dikelola secara maksimal, ujarnya.

 

Dikesempatan yang sama, Deputi Kepala BPPT Bidang Teknologi Industri Energi dan Material (TIEM) BPPT Eniya Listiani Dewi menuturkan, geothermal alias panas bumi menjadi salah satu sumber energi terbarukan yang dapat berkembang di tanah air. Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) diharapkan mampu memberi kontribusi besar dalam upaya mencapai target bauran energi baru terbarukan (EBT) 23 persen pada tahun 2025. Saat ini 40% cadangan panas bumi dunia di Indonesia Potensi 23,9 GW dan hanya termanfaatkan 2.1 GW atau sekitar (8%) saja, urainya.

 

Dengan adanya PLTP skala kecil yang telah dikembangkan BPPT salah satunya adalah PLTP Kamojang yang merupakan hasil rancang bangun para perekayasa BPPT, komponen utamanya didesain oleh BPPT dan dimanufaktur oleh industri dalam negeri. Rintisan kegiatan sebut Eniya  dilakukan melalui dua pendekatan teknologi yakni flash condensing dan binary cycle yang disesuaikan dengan karakteristik uap geothermal yang ada.

 

Serta PLTP Lahendong yang menggandeng pihak universitas untuk pengembangan SDM nya sebagai optimasisasi kinerja Teknologi PLTP Siklus Biner 500 Kilowatt di lapangan panas bumi Lahendong kota Tomohon, Provinsi Sulawesi Utara, bentuk kerjasama Triple Helix perguruan tinggi, Pemerintah dan industri.

 

Adapun untuk bahan bakar nabati BPPT juga mengolahnya untuk subtitusi bahan bakar minyak yaitu gasolin dan elpiji mendukung program katalis merah putih. Diharapkan konsep ini menjadi salah satu solusi dalam menghasilkan gas solid jadi metode fluid catalytic cracking yang rencananya dari skala 300 kg per hari menjadi 3 ribu.

 

Dikesempatan yang sama Direktorat Bioenergi Kementerian ESDM Adriah Feby Misna menyebut, seperti yang sudah dicanangkan dalam kebijakan energi nasional (PP No.79/2014) di tahun 2025 nanti diharapkan peran dari energi baru terbarukan bisa lebih ditingkatkan hingga 23% dalam rangka meningkatkan ketahanan dan kemandirian bangsa.

 

Dari angka 23 % ini jika melihat ada yang nantinya untuk listrik dan juga untuk bio fuel, jika kita melihat secara umum dari target yang diharapkan 69,20 equivalent untuk listrik, kemudian 23 % untuk produk lainnya diluar listrik maka bisa terlihat bahwa ditahun 2025 itu peran dari bio energy sangat besar untuk pencapaian dari EBT ini, jelasnya.

 

Saat ini potensi EBT ujar Adriah, belum termanfaatkan secara maksimal sedangkan potensi EBT yang besar menjadi modal ketahanan energi nasional, oleh karena itu diperlukan strategi percepatan EBT antara lain subtitusi energi primer/final dengan tetap menggunakan eksisting teknologi, konversi energi primer fosil menjadi pengganti teknologi pembangkit/konversi, penambahan kapasitas EBT dan pemanfaatan EBT non listrik seperti bahan bakar nabati, bio gas. “Segala upaya ini dilakukan agar kita dapat mencapai target 25 % EBT ditahun 2025”, jelasnya.

 

Saat ini Indonesia sedang mengembangkan long term strategy menuju net zero emission dimana penggunaan energi akan memuncak pada tahun 2040 nanti dan mencapai net zero pada tahun 2060 tentunya dengan strategi jangka panjang sektor energi menuju karbon netral melalui pengembangan EBT secara massif maupun pengurangan pemanfaatan energi fosil atau pemanfaatan tekologi CCS/CCUS.

 

Tentunya peran R & D dalam pengembangan EBT tutur Adriah sangat diperlukan sebagai upaya melakukan pengembangan teknologi energi bersih untuk mengurangi ketergantungan impor, mengembangkan program yang relevan terhadap pengembangan energi yang berkelanjutan seperti memberikan rekomendasi terkait regulasi keekonomian dan teknis, menciptakan terobosan teknologi yang dapat menghasilkan produk EBT yang kompetitif, mengembangkan inovasi startup untuk mendukung pengembangan energi terbarukan, ikut berkontribusi dalam diseminasi informasi pemanfaatan EBTKE. “Kemudian menyusun kajian dan piloting model serta pondasi teknologi dan produksi dalam negeri”, pungkasnya.

 

Diharapkan kegiatan ini dapat memberikan masukan, gagasan dan strategi untuk mencapai target penggunaan energi baru terbarukan di Indonesia menuju net zero emission dengan harga energi yang terjangkau masyarakat dan di tahun 2025 Indonesia dapat mengefisiensikan penggunaan energi dengan menggunakan energi yang terbarukan. (Humas BPPT)