8106
Hits

PIPA APUNG DIUJICOBAKAN DI PERTAMINA BALIKPAPAN

Lebih lanjut Achmad mengatakan, pipa apung hasil inovasi BPPT tersebut diharapkan dapat bersaing dengan produk impor sejenis. Selain kualitas, tentunya harga menjadi salah satu pertimbangan. Dengan harga yeng lebih murah, produk dalam negeri dapat menjadi pilihan pihak pengguna terutama dalam refinery minyak bumi seperti di Dumai, Cilacap, Pekalongan dan Balikpapan.

Sejak tahun 2003, Pusat Teknologi Industri Proses (PTIP) BPPT, melakukan penelitian dan pengembangan produksi pipa apung. Hampir 90% bahan baku yang digunakan berasal dari dalam negeri, hanya sebagian kecil saja yang masih harus impor.

Selama ini, kebutuhan Indonesia akan pipa apung cukup besar. Seperti yang dikatakan Direktur PTIP BPPT, Dani M Gandana beberapa waktu lalu. Dalam setahun, Indonesia membutuhkan sekitar 450 unit pipa apung. Selama ini seluruh kebutuhan pipa apung tersebut dipenuhi melalui impor. Apabila kita bisa membuat sendiri pipa apung, tentunya akan besar sekali efisiensi yang bisa dilakukan.

Sampai saat ini, untuk memenuhi kebutuhan akan pipa apung Indonesia masih mengimpornya dari Jepang dan Amerika. Dalam mengembangkan pipa apung atau Teknologi Manufaktur Rubber House, BPPT bekerjasama dengan PT. Agronesia dan PT. Inkaba. Sebagai salah satu negara penghasil karet terbesar di dunia, BPPT melihat potensi karet sebagai peluang yang harus dimanfaatkan.

Masih menurut Achmad, Ia meyakini bahwa potensi market pipa apung di Indonesia sangat menarik. Setelah uji coba selesai, ujarnya, produk ini akan dapat di declare sebagai pioneer dalam negeri. Tidak hanya kilangnya saja, depot-depot pun dapat menggunakan pipa apung ini, tambah Achmad. (YRS/humas)