3643
Hits

PLTP Merah Putih Lahendong, Rintisan Energi Bersih untuk Indonesia (I)

 

Dikatakan Plt Kepala BPPT, Wimpie AN. Aspar, BPPT bersama GFZ dan PT Pertamina Geothermal Energy (PGE) mengembangkan PLTP Binary Cycle kapasitas 500 kW di Lahendong, Sulawesi Utara. Kegiatan riset bersama ini mengimplentasikan salah satu peran BPPT yakni melaksanakan alih teknologi PLTP skala kecil.

“Kami bersama dengan PGE ini ya saat ini, tengah menjalankan yang namanya PLTP 500 kilowatt, di Lahendong. Alat ini hibah dari Jerman, kami ingin ya alat ini bermanfaat menjadi potensi pembangkit berbasis energi bersih untuk juga menjadi model yang dapat diterapkan di wilayah berpotensi sumber panasbumi di Indonesia,” ungkapnya dalam acara Peresmian dan Serah Terima PLTP 500 Binary Cycle kapasitas 500 kW di Lahendong, Sulawesi Utara, Senin, (20/01/2019).

Sebagai negara yang berada di kawasan ring of fire (cincin api), Indonesia memiliki banyak sumber panas bumi termasuk dengan tipe low enthalphy seperti brine di lapangan Lahendong. Hal ini juga sejalan dengan komitmen pemerintah untuk mengurangi dampak perubahan iklim dan pemanasan global.

“Dengan melakukan kaji terap teknologi dan membangun berbagai pembangkit yang bersumber energi baru terbarukan atau EBT, BPPT memikul tanggung jawab besar untuk menjadi pionir dalam tataran implementasi teknologi pembangkit listrik yang dalam hal ini memanfaatkan sumber panas bumi dengan menggunakan teknologi binary cycle,” paparnya.

Alih teknologi PLTP skala kecil ini lanjut Plt. Kepala BPPT juga sesuai dengan Rencana Induk Riset Nasional (RIRN) 2015-2045, dimana riset diarahkan untuk mendukung pembangunan nasional bertujuan untuk meningkatkan TKDN.

“Potensi ini harus dimanfaatkan untuk pemerataan dan percepatan pembangunan. Yakni potensi Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) pada pembangkit tenaga listrik, yang dapat diterapkan pada wilayah yang memiliki sumber panas bumi, yang biasanya tergolong wilayah terpencil yang rata-rata belum teraliri listrik,” tegasnya.

Sinergi Anak Bangsa

Pada kesempatan yang sama Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi, M. Nasir menuturkan bahwa untuk mengusung suatu invensi menjadi inovasi, memerlukan kerja bersama antar para pihak, antar lembaga penelitian, perguruan tinggi, perusahaan dan industri, bahkan antara dua negara, Jerman dan Indonesia.

Menteri Nasir pun mengaku bangga bahwa kegiatan ini melibatkan komunitas akademik. Dengan telah dilakukan penandatanganan MoU antara BPPT dan Politeknik Manado (yang memiliki kegiatan pendidikan kejuruan) dan Universitas Sam Ratulangi di Manado dalam konteks penerapan Tri Dharma Universitas di bidang siklus panas bumi. Jadi, konsep ABG (Akademik, Bisnis, dan Pemerintahan) sudah sangat berjalan di sini.

“Semoga pembangkit listrik tenaga panas bumi dengan tipe Organic Rankine Cycle (ORC), Binary Cycle (siklus biner) ini dapat direplikasi di daerah lain, khususnya di bagian timur Indonesia, yang memiliki sumber daya panas bumi serupa,” pungkasnya.

Sebagai informasi, serah terima ini adalah bagian dari serangkaian perjanjian yakni Deklarasi Bersama antara Kementerian Riset dan Teknologi Republik Indonesia (sebelumnya bernama RISTEK dan sekarang bernama RISTEKDIKTI) dan Kementerian Pendidikan dan Penelitian Federal Jerman (BMBF) yang ditandatangani pada 27 April 2010 di Denpasar, Indonesia. Yang kedua adalah Perjanjian Pelaksanaaan tentang “Pengembangan Energi Panas Bumi Berkelanjutan di Indonesia” antara GFZ dan BPPT yang ditandatangani pada tanggal 2 Juni 2010. Dan selanjutnya dilakukan Perjanjian Studi Bersama antara PT Pertamina Geothermal Energy (PGE), GFZ dan BPPT mengenai implementasi dan pengoperasian Demonstration plant pembangkit listrik tenaga Panas Bumi Siklus Biner yang ditandatangani pada tanggal 17 Januari 2012. (Humas/HMP)