11861
Hits

"MAKARINA" RAIH JUARA I LOMBA INOVASI PENGOLAHAN HASIL PERIKANAN NASIONAL

Peran pemuda tersebut diemban secara nyata oleh dua perekayasa muda Pusat Teknologi Agroindustri-TAB, Renny Primasari dan Maria Nooza, yang pada tanggal 24 Oktober 2011 telah menerima penghargaan juara pertama padaLomba Inovasi Pengolahan Hasil Perikanan Tingkat Nasional. Keduanya yang notabene baru diangkat sebagai PNS bulan Mei 2011 lalu berhasil mengalahkan saingannya dari kategori kementerian dan akademisi.

Produk hasil inovasi kami bertemakan diversifikasi pangan, yakni subtitusi tepung terigu dengan tepung jagung, juga menggunakan ikan lele sebagai produk non ekonomis, 100 persen berbahan baku lokal, dan harga jualnya setengah dari produk makaroni serupa di pasaran, jelas Renny dan Nooza. Pada lomba tersebut BPPT menampilkan produk yang diberi nama MAKARINA yang merupakan inisial dari Makaroni Ikan.

Nooza juga menambahkan bahwa kegiatan ini berada dalam payung program pengembangan teknologi pengolahan hasil perikanan dan peternakan. Makarina ini dikembangkan di LABTIAB-Puspiptek, Serpong, dengan menggunakan bahan baku utama ikan lele dan jagung, dan sama sekali tidak menggunakan bahan impor. Teknologi pembuatan makaroninya menggunakan ekstruder yang juga karya perekayasa dari PTA sendiri, jelasnya.

Makarina selain dapat diolah dalam beragam masakan juga mempunyai kandungan protein dan asam amino yang baik untuk peningkatan kecerdasan otak. Karena tanpa sedikitpun bahan kimia seperti pengawet dan pewarna, makanan ini pun dapat dikonsumsi oleh segala umur, ungkap Renny.

Lomba yang diadakan oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan tersebut diikuti oleh 177 peserta dari  pelaku perikanan UKM, institusi riset dan perguruan tinggi.  Lomba tahun ini merupakan lomba tahunan yang ke tiga dan dilaksanakan dalam rangka gerakan nasional  Gemar Makan Ikan.  Lomba dengan juri para pengusaha dan profesional dari industri pengolahan perikanan, mempunyai kriteria : produk merupakan produk baru, bahan baku  ikan minimal 10%, teknologi mudah diaplikasikan, mengutamakan bahan baku lokal, memiliki nilai jual, mempunyai peluang pengembangan pada skala industrinya. Produk Makarina yang telah diuji tingkat kandungan gizi dan sifat-sifat fisiknya, pada saat final penjurian ditampilkan dalam bentuk olahan seperti : sup, skutel, dan Sphageti.  Dengan kriteria yang ada, ke lima juri, tanpa ragu sepakat memutuskan bahwa Makarina merupakan karya inovatif dan mempunyai potensi untuk dikembangkan pada skala industri.

Tentunya penghargaan ini perlu apresiasi lebih lanjut, keduanya berharap Makarina ini segera mendapatkan mitra untuk dikembangkan dan dipasarkan. Dukungan yang kami terima dari atasan dan rekan kerja memotivasi kami untuk mengembangkan produk yang lebih inovatif lainnya, jelas mereka.

Selain itu keduanya juga memberikan motivasi kepada perekayasa muda lainnya untuk terus berinovasi sesuai dengan bidang ilmu dan kemampuan yang dimiliki. Perjuangan pemuda saat ini tidak dilihat dari keterlibatan kita dalam peperangan. Tapi justru dari peran kita dalam berkarya dan berprestasi bagi kemajuan bangsa dan negara, tegas keduanya kompak.

Pada kesempatan yang berbeda, Direktur PTA, Priyo Atmaji menyampaikan bahwa dengan prestasi yang telah ditunjukkan oleh kedua perekayasa di pusatnya tersebut, Ia berharap mereka mendapat prioritas untuk dapat melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi dari BPPT. "Selain itu tentunya dengan prestasi perekayasa muda ini maka diharapkan perekayasa lainnya di BPPT dapat termotivasi untuk melakukan hal yang sama terkait dengan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi," jelasnya.

Senada dengan Priyo, Deputi Kepala BPPT Bidang Teknologi Agroindustri dan Bioteknologi (TAB), Listyani Wijayanti juga menyampaikan dukungan penuhnya atas keterlibatan aktif perekayasa dan periset muda dalam lomba inovasi teknologi tingkat nasional. Apa yang dicapai oleh dua perekayasa muda PTA TAB ini hendaknya menjadi inspirasi bagi para perekayasa muda lainnya. BPPT telah menyediakan fasilitas bagi para perekayasa untuk mengekspresikan kapabilitas atau kemampuan teknologi yang  mereka miliki, di berbagai tempat. Untuk teknologi pangan dan kesehatan misalnya, dapat dilakukan di LABTIAB atau Balai Pengkajian Bioteknologi di Serpong atau fasilitas Balai Besar Teknologi Pati di Sulusuban dan Tulang Bawang. Fasilitas yang telah dibangun dengan investasi sangat besar ini haruslah dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya oleh para perekayasa agar peran teknologi lebih nyata lagi sebagai salah satu  faktor penting di dalam mendorong tumbuhnya ekonomi, jelasnya. (SYRA/humas)