7215
Hits

REKAYASA TEKNOLOGI UNTUK KEMULIAAN BANGSA

Administrator
04 Oct 2010
Layanan Info Publik

{rokbox}images/stories/puk.jpg{/rokbox}{rokbox}images/stories/puk0.jpg{/rokbox}{rokbox}images/stories/puk1.jpg{/rokbox}

Dr. (HC). Ir. Arifin Panigoro, berhasil mendapatkan gelar PUK 2010 dalam bidang energi. Penghargaan tersebut diberikan BPPT kepada individu baik dari masyarakat Indonesia maupun internasional yang telah berjasa besar dalam mengembangkan kegiatan teknologi kerekayasaan (engineering) di Indonesia.

BPPT memberi gelar PUK tersebut karena Arifin dinilai sebagai salah satu putra bangsa terbaik yang tidak diragukan dedikasi dan integritas serta profesionalismenya sebagai perekayasa, teknopreneur sekaligus inovator yang sukses di bidang perminyakan dan energi terbarukan bahkan sampai bidang ketahanan pangan, kata Kepala BPPT dalam sambutannya.

Dalam orasi yang berjudul Rekayasa Teknologi Untuk Kemuliaan Bangsa, Sebuah Panggilan Untuk Anak Bangsa, Arifin mengatakan bahwa seorang insinyur atau perekayasa adalah seorang yang menciptakan mengembangkan dan memanfaatkan teknologi secara inovatif, yang bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat luas secara berkelanjutan. Tantangan awal sudah termaktub dalam kata rekayasa itu sendiri, kata Pendiri dan Pemilik Medco Group.

Menjadi insinyur di negara berkembang, tantangannya jauh lebih besar daripada di negara maju yang secara umum sudah memiliki tatanan institusi ekonomi dan pemerintahan yang mapan dengan tingkat pendapatan masyarakat yang relatif tinggi. Seperti di Indonesia, permasalahan yang dihadapi jauh lebih beragam. Kita masih harus mengatasi kemiskinan, berjuang mengurangi kesenjangan sosial, pertumbuhan penduduk yang meningkat pesat tidak sebanding dengan jumlah penyediaan lapangan pekerjaan, serta mengatasi permasalahan kerusakan lingkungan, papar Arifin.

Menurutnya, Indonesia memerlukan insinyur yang mampu menciptakan lapangan kerja dalam jumlah yang sangat besar dan mengembangkan usaha yang bertumpu pada kekuatan pengetahuan dan teknologi (technopreneur). Namun yang tidak kalah pentingnya, insinyur dalam melakukan usahanya harus berani berpegang pada etika, karena insinyur berkontribusi dalam membangun masa depan Indonesia yang lebih sejahtera dan bermartabat.

Fokus Insinyur Indonesia

Para insinyur Indonesia saat ini perlu memusatkan perhatian dan berinovasi untuk mengatasi tantangan yang dihadapi oleh bangsa Indonesia dalam tiga sektor, yaitu energi, pangan dan lingkungan hidup. Untuk mengatasi ketiga tantangan tersebut, diperlukan inovasi teknologi dan sosial oleh semua pihak, khususnya oleh lembaga pemerintah, swasta, BUMN, dan lembaga pendidikan dan penelitian, ungkap Alumni Institut Teknologi Bandung (ITB), jurusan Elektro tersebut.

Dikatakan Arifin, kemampuan dan hasil kerja tenaga dari Indonesia tidak kalah potensinya dibandingkan negara lainnya. Hal tersebut dapat harus didorong dengan persiapan yang baik, diberi pendidikan, pelatihan yang cukup, serta diberi tantangan. Ini sudah saya buktikan sendiri. Pengalaman saya dan jajaran Medco Energi dalam menugaskan para insinyur Indonesia di daerah operasinya di luar negeri, prestasi dan performa kerja mereka diakui oleh berbagai perusahaan minyak papan atas dunia.

Diakhir orasinya, Arifin mengutip judul buku yang ditulis oleh Lawrence E. Harison yang berjudul Underdevelopment is a State of Mind (Keterbelakangan adalah masalah mentalitas). Saya merasakan kebenaran dari pernyataan tersebut, bahwa membangun mentalitas yang kuat lebih sulit daripada mengembangkan kompetensi. Dari pengalaman saya dalam mengembangkan usaha dan bergerak dalam kegiatan kemasyarakatan, saya mendapat keyakinan bahwa kita bisa, tegas Arifin. (KYRA/humas)