3888
Hits

Sarasehan TPSA: Inovasi Teknologi Untuk Mendorong Perubahan di Indonesia

 

Melanjutkan pernyataan Kepala BPPT, Deputi Kepala BPPT Bidang Teknologi Pengolahan Sumberdaya Alam (TPSA BPPT), Ridwan Djamaluddin, juga berpesan kepada semua warga TPSA untuk selalu menciptakan inovasi-inovasi teknologi untuk mendorong perubahan yang nyata. “Cita-cita kita adalah TPSA yang berkelas dunia dan mendunia, yang dituangkan dalam tema sarasehan kali ini Dari TPSA Menuju Indonesia Hebat,” tegas Ridwan.

 

Pada acara ini juga menghadirkan beberapa pembicara di antaranya Ilham Akbar Habibie (CEO Ilthabi Rekatama), Warsito Purwo Taruno (CEO Ctech Labs EdWar Technology), Erry Ricardo (Biro Perencanaan Kemenristek), Asep Karsidi (Kepala BIG), Bambang Setiadi (Mantan Kepala BSN) dan Andi Eka Sakya (Kepala BMKG).

 

Pada paparannya, Ilham Habibie menyampaikan kiat-kiat komersialisasi dan bisnis teknologi, pentingnya dukungan pemerintah dalam bentuk fasilitas pengujian, badan standarisasi dan lembaga sertifikasi. “Sebagai orang yang bergerak di bidang teknologi, kita harus benar-benar tahu kebutuhan pasar saat ini dan mampu untuk mendistribusikan teknologi ke dunia industri,” ungkap Ilham.

 

Selanjutnya, Warsito memaparkan tantangan melakukan inovasi teknologi di Indonesia. Dirinya memulai paparan dengan menuturkan pengalamannya kala melakukan riset di Indonesia tanpa dukungan signifikan dari pemerintah. Dia menyampaikan pengalamannya dalam mengembangkan teknologi Electrical Capacitance Volume Tomography (ECVT), dan produk teknologi terbaru yang sedang dikembangkan, seperti cancer electro capacitive scanner, cancer electro capacitive therapy, dan brain activity scanner.  

 

“Tidak cukup dengan modal ‘gila” untuk bisa melakukan inovasi di Indonesia, namun harus berani mengorbankan semua yang kita punya, termasuk masa depan kita,” ujarnya.

 

Pemapar selanjutnya, Kepala Biro Perencanaan Kementrian Riset dan Teknologi (KRT) Erry Ricardo, mengangkat permasalah sinergi LPNK Ristek dan badan litbang kementerian teknis. Erry menegaskan positioning KRT yang bertugas dalam hal perumusan dan penetapan kebijakan dan koordinasi dan sinkronisasi pelaksanaan kebijakan di bidang riset dan teknologi.

 

Terkait wacana dari pemerintah mendatang terkait penggabungan Dikti dan Ristek, Erry menjelaskan implikasinya menjadi Kementerian Portofolio yang dapat mengeksekusi kebijakan melalui lembaga-lembaga litbang dibawahnya. “Karena itu, peluang sinergi lembaga litbang LPK dan LPNK Ristek menjadi lebih besar jika kedua lembaga litbang tersebut berada di bawah Kementerian baru tersebut,” jelasnya.

 

Kemudian Kepala Badan Informasi dan Geospasial Asep Karsidi menyampaikan paradigma baru pembangunan Informasi Geospasial dan pentingnya One Map Policy. “Informasi geospasial membutuhkan referensi dan satandar yang sama untuk semua pengguna,” tegas Asep.

 

Pembicara lainnya, Andi Eka Sakya yang juga merupakan Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika juga menekankan kebutuhan yang penting dimasa mendatang, seperti pangan, air dan energi, di mana kebutuhan mendasar manusia tersebut semakin meningkat, namun persediaannya cenderung makin menipis.  

 

Andi juga memaparkan tentang ancaman bencana hidro-meteorologis yang semakin sering terjadi akibat perubahan tata lingkungan termasuk pemanasan global. Selain itu, Andi juga menggarisbawahi pentingnya pendalaman pemahaman interaksi kelautan dan atmosfer.

 

Terakhir, mantan Kepala BSN, Bambang Setiadi membahas mengenai pentingnya penerapan knowledge management dalam pengelolaan sumber daya alam, khususnya di TPSA. “Indonesia merupakan negara yang kaya akan sumber daya alam, namun dikelola secara tidak tepat sehingga belum mampu menjadikan rakyat sejahtera. Contohnya  negara yang berhasil menjadikan sumber daya alam sebagai sumber kemakmuran adalah Norwegia dan Botswana,” jelasnya. (MAK/FA/TPSA/SYRA/Humas)