572
Hits

SHMS, Solusi Teknologi Pantau Kondisi Kesehatan Struktur Jembatan Kereta Api

Jalur kereta di Indonesia merupakan yang tertua kedua di Asia, setelah India. Sebagian besar jembatan kereta api yang ada, konstruksinya masih merupakan peninggalan kolonial Belanda sehingga usianya sudah sangat tua dan perlu perhatian khusus.

 

Berangkat dari hal tersebut, Pusat Teknologi Sistem dan Prasarana Transportasi (PTSPT BRIN) melakukan uji coba inovasi teknologi Structural Health Monitoring System (SHMS) yang merupakan sebuah sistem untuk memantau kondisi kesehatan struktur jembatan. Sistem monitoring ini sedang diuji pada jembatan kereta api BH77 di Tegineneng, Lampung (15/09).

 

Kepala Organisasi Riset Pengkajian dan Penerapan Teknologi Badan Riset Inovasi Nasional (OR PPT BRIN) Dadan Moh Nurjaman pada peninjauan langsung menjelaskan bahwa SHMS ini bekerja dengan memanfaatkan sensor yang dipasang pada jembatan untuk mendapatkan data berdasarkan parameter-parameter tertentu yang sudah ditentukan.

 

"Data-data tersebut akan muncul pada sebuah dashboard dan dapat memberikan informasi secara real time mengenai kondisi jembatan," ujarnya.

 

Teknologi ini merupakan inovasi dari Pusat Teknologi Sistem dan Prasarana Transportasi (PTSPT) Organisasi Riset Pengkajian dan Penerapan Teknologi (OR PPT BRIN) bekerjasama dengan Institut Teknologi Sumatera (ITERA), Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) serta PT. Kereta Api Indonesia

 

Lebih lanjut dikatakannya, teknologi monitoring online sangat dibutuhkan, apalagi untuk jalur kereta yang padat dan akses ke lokasi jembatan yang jauh. Kedepan kerjasama atara BRIN, KNKT dan ITERA bisa dilanjutkan dengan membangun ekosistem transportasi, tutur Dadan.

 

Sementar Ketua KNKT Soerjanto Tjahjono mengutarakan bahwa yang menjadi masalah saat ini, lebih dari 6000 jembatan di Indonesia umurnya sudah diatas 100 tahun. SHMS ini adalah harapan untuk peningkatan sistem perkeretaapian. Diharapkan jembatan bentang panjang dan yang sudah berumur bisa segera dipasang alat tersebut.

 

Selain itu, pada tahun 2023 nanti Soerjanto berharap sistem monitoring ini dapat dimanfaatkan oleh pemangku kepentingan pada prasarana jembatan perkeretaapian seperti Direktorat Jenderal Perkeretaapian Kementerian Perhubungan dan PT. KAI (Persero) guna memperoleh kemudahan operasi, penerapan dan perawatan infrastruktur perkeretaapian. (Humas OR PPT)