3698
Hits

Sistem Cerdas Pelacak Covid-19

Administrator
11 May 2020
Layanan Info Publik

Task Force Riset dan Inovasi Teknologi untuk penanganan Covid-19 (TFRIC-19) yang dibentuk Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) mengembangkan sistem pendeteksi penyakit yang dipicu virus corona tersebut dengan memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence).

 

Model aplikasi itu dibangun menggunakan data pemindai toraks dengan sinar-x dan teknologi pemindaian computed tomography (CT Scan). Sistem pemodelan deteksi dengan teknologi kecerdasan buatan adalah salah satu prioritas riset yang dikerjakan para penliti di TFRIC-19. Konsorsium ini merupakan kolaborasi riset peneliti dari belasan universitas dan lembaga riset untuk mempercepat penelitian terkait dengan pandemi Covid-19.

 

“Dengan teknologi ini kami berharap para dokter dapat lebih mudah dan cepat menemukan penyakit ini pada pasien”, kata Kepala BPPT Hammam Riza (30/04).  

 

Pengembangan teknologi kecerdasan buatan ini bisa menjadi pelengkap dalam melacak keberadaan Covid-19. Selama ini, untuk memastikan status Covid-19 pasien harus menjalani swab test atau pemeriksaan sample cairan atau lendir yang diambil dari saluran pernapasan. Keluarnya hasil pemeriksaan tersebut bisa memakan 1-3 hari.

 

Menurut Hammam, selagi menunggu swab test pasien bisa menjalani pemeriksaan darah dan pemindaian toraks dan paru dengan sinar-x atau CT Scan. Hasil pemindaian dikirim ke bank data mesin pelacak dan akan diperiksa oleh sistem yang menggunakan teknologi kecerdasan buatan. Hasilnya bisa didapat lebih dini, ucapnya.

 

Sistem kecerdasan bauatan ini dibangun menggunakan data dan citra toraks para pasien Covid-19 diluar negeri yang sudah dibuka. BPPT saat ini memiliki sekitar 200 data yang digunakan untuk melatih perangkat lunak didalam sistem.

 

Dengan pendekatan machine learning, sistem mendata citra paru yang dimasukan untuk bisa mengenali kondisi pasien dengan Covid-19. Menurut Hammam, tim peneliti juga akan melatih sistem menggunakan data dari pasien Indonesia. “Ini lebih spesifik untuk penanganan kasus Covid-19 di Indonesia”, ujar Hammam.

 

Tim peneliti juga membuat teknologi pendeteksi ini terkoneksi dengan jaringan internet dan sistem komputasi awan (cloud). Dengan demikian, dokter diberbagai rumah sakit di daerah pun bisa mengunggah data ke sistem BPPT. Hammam menambahkan, dokter juga bisa mengakses datanya sebagai pembanding kala melakukan pemeriksaan. Data ini dikolaborasikan dengan hasil swab test sehingga dapat membantu para dokter untuk menegakan diagnosis”, tuturnya.

 

Hammam mengatakan sistem ini akan terus dikembangkan oleh para peneliti TFRIC-19. Perangkat lunak yang dibangun juga akan segera di uji coba. “Teknologi ini adalah hasil ekosistem inovasi yang dikerjakan peneliti dari universitas dan lembaga riset”, katanya. (Sumber: https://majalah.tempo.co)