5716
Hits

Solusi Teknologi BPPT : Pelumas Bekas Menjadi Bahan Bakar Minyak

Administrator
23 Aug 2017
Layanan Info Publik

 

Lebih lanjut Unggul mengatakan, dari demo plant tersebut terdiri dari dua production line, pertama menghasilkan light diesel oil yang setara dengan marine fuel serta menghasilkan Concrete Release Agent (CRO) yang dapat digunakan untuk memperhalus permukaan beton. 

 

”Harapannya untuk pengoperasian demo plant ini dapat melibatkan berbagai pihak yang dapat memberikan manfaatnya. Upaya inipun merupakan bagain dari solusi teknologi bahan bakar dari sumber lain yaitu limbah minyak atau pelumas, sekaligus berkontribusi mengurangi potensi pencemaran lingkungan, tutup Unggul”. 

 

Ditempat yang sama Deputi Bidang Teknologi Informasi, Energi dan Material(TIEM) Hammam Riza mengatakan, "dalam bidang energi bahan bakar ini diperlukan terobosan inovasi bukan hanya mengembangkan produk yang ramah lingkungan, tetapi bagaimana cara mengatasi limbahnya yang menghasilkan pencemaran lingkungan. Seperti kita ketahui pelumas bekas ini limbah beracun yang menjadi masalah buat lingkungan, dengan ada prototipe pengelolaan daur ulang pelumas bekas menjadi bahan bakar". 

 

Pelumas bekas ini banyak tersebar di Indonesia dan untuk daurnya di Pulau memang sudah ada, namun untuk di luar Jawa khususnya di Kalimantan ini yang pertama, ungkap Hammam. 

 

Lebih lanjut Hammam mengatakan, demo plant ini dengan kapasitas 12000 kilo liter, ini sudah menjadi prototipe skala industri. Tentu ini kita harapkan bagi industri ini dapat dikembangakan tidak hanya di Kalimantan saja memiliki banyak kilang minyak tentunya menghasilkan pelumnas bekas di daerah lainpun industri pengelolahan pelumas bekas dapat dikembangkan". 

 

Mengamini Deputi Bidang TIEM Hammam Riza, Direktur Utama PT. BES Faisal Ahmad mengatakan, "kami sangat menyambut baik proyek ini, kerena pabrik daur ulang pelumas bekas merupakan yang pertama di Kalimantan".

 

Jadi selama ini pengelolahan minyak bekas kami harus kirim ke Pulau Jawa untuk di olah dan tentu hal tersebut menjadi high cost logistik, dengan adanya pabrik daur ulang di Kalimantan tentu akan menekan biaya, urai Faisal. 

 

"Dengan adanya pengoperasian ini di Kalimantan akan menjadi proyek percontohan bagi daerah lain dan kedepannya dapat lebih dibesarkan dan dikomersialisasikan, tutup Fasial". (Humas)