1728
Hits

Tingkatkan Peran Perekayasa Dalam Mewujudkan Ekosistem Riset dan Inovasi Nasional

Administrator
27 May 2021
Layanan Info Publik

Dalam mewujudkan Indonesia menuju negara maju maka diperlukan pertumbuhan ekonomi yang tinggi, hal ini bisa tercapai kalau ada riset dan inovasi yang kuat terutama dari para Perekayasa yang tergabung dalam Himpunan Perekayasa Indonesia (Himperindo). Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) sebagai instansi pembina Perekayasa mengadakan webinar dengan tema Penguatan Peran Perekayasa Dalam Mewujudkan Ekosistem Riset dan Inovasi Nasional bagi pejabat fungsional perekayasa di lingkungan BPPT secara daring (27/05).

 

Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono yang hadir diacara tersebut mengatakan, tujuan pembangunan infrastruktur di Indonesia tidak lagi sekedar untuk memenuhi kebutuhan infrastruktur dasar namun juga diarahkan untuk meningkatkan daya saing.

 

Basuki menyebut, pihaknya telah menetapkan target-target pembangunan, seperti target prioritas dan strategis pada tahun 2020-2024 yang terdiri lima komponen infrastruktur yaitu: Konektifitas, Sains, Perumahan dan pemukiman, komunikasi dan energi.

 

Selain itu, Kementerian PUPR juga diamanahkan tiga komponen penting yang terdiri dari bidang sumber daya air, konektifitas, perumahan dan pemukiman. Guna memenuhi target pembangunan serta meningkatkan dan menjadikan Indonesia negara maju menurutnya, Indonesia harus mengoptimalkan semua potensi ekosistem, riset dan inovasi secara sistematis dan konsisten.

 

Karenanya, Kementerian PUPR terus melakukan pembangunan infrastruktur guna mendukung ketahanan air dan pangan melalui pembangunan jaringan irigasi dan bendungan, memperkuat konektivitas antar wilayah dalam rangka peningkatan daya saing melalui pembangunan  jalan dan jembatan, meningkatkan kualitas lingkungan pemukiman khususnya perkotaan sebagai engine of economic growth dengan penyediaan kebutuhan sanitasi dan air minum serta pembangunan perumahan layak huni, ujarnya.

Basuki juga menambahkan pentingnya peran Perekayasa dalam pembangunan infrastruktur di Indonesia untuk menjalankan program-programnya dengan belajar dari negara lain seperti Korea Selatan dimana kegiatan riset dan inovasi tidak hanya dilakukan oleh Pemerintah tetapi secara terintergrasi dilakukan BUMN dan Swasta.

 

Pemerintah berfungsi sebagai integrator dan melakukan sinergi dari beberapa pondasi yang sudah ada. Semoga pengetahuan yang dihasilkan dari diskusi di dapat disebarluaskan dan dapat menjadi rujukan bagi berbagai kalangan dalam memperkuat peran perekayasa guna mewujudkan ekosistem riset dan inovasi nasional, jelasnya.

 

Di kesempatan yang sama Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Laksana Tri Handoko mengatakan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dibentuk oleh pemerintah dan bertanggung jawab untuk melakukan konsolidasi berbagai litbang pemerintah ditargetkan bisa melakukan konsolidasi dalam waktu secepat-cepatnya,

Sehingga bisa segera memasuki program baru untuk menciptakan ekosistem riset dan inovasi yang lebih baik.

 

Lebih lanjut ungkapnya, BRIN harus mampu menjadi fasilitator dan enabler bagi kalangan di luar BRIN termasuk dari perguruan tinggi dan industri dengan tujuan untuk bisa mengembangkan kapasitas dan kompetensi dalam melakukan riset dan inovasi, sehingga pada akhirnya akan mendukung perekonomian dalam jangka panjang. 

 

Selain itu, di saat yang sama juga bisa memicu investasi baru yang masuk ke sektor Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) baik dari dalam maupun luar negeri sehingga akan dirasakan manfaatnya dan jangka panjang, tuturnya.

 

Jika bicara tentang Perekayasa yang terfokus pada pengkajian dan penerapan maka organisasi profesi Himperindo disini sebagai mitra utama BRIN untuk bersama-sama membina para pejabat fungsional perekayasa.

 

Posisi Himperindo disini sangat krusial karena sesuai dengan Undang-undang ASN No 15/2014 dan PP No:11 Tahun 2017 menekankan bahwa setiap pejabat fungsional harus tergabung didalam organisasi profesi yang sudah mengatur seluruh kode etik untuk pembinaannya, karena itu peranan Himperindo harus diperkuat.

 

Sementara, Kepala BPPT Hammam Riza memaparkan bahwa Perekayasa sebagai salah satu SDM Iptek sesuai yang tertuang dalam UU Sisnas Iptek No.11 Tahun 2019, kemudian dalam Permenpan nomor 14 Tahun 2021 ditegaskan Perekayasa adalah adalah PNS yang melakukan pengkajian dan penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk menghasilkan inovasi dan layanan teknologi.

 

Berdasarkan Permenpan ini maka Perekayasa adalah SDM yang mempunyai tugas utama dalam kaji terap teknologi. Dikaitkan dengan UU Sisnas Iptek dalam pelaksanaan kaji terap maka Perekayasa melaksakan tiga peran Pengkajian (perekayasaan, kliring tekonologi dan audit teknologi) dalam Pengkajian dan empat peran dalam Penerapan (difusi iptek, alih teknologi, intermediasi teknologi dan komersialisasi teknologi).

 

Secara khusus tambahnya, untuk peran Perekayasaan maka kegiatannya dimulai dengan pengujian untuk memastikan standar - standar yang diacu oleh industri maupun pengguna, pengembangan teknologi dilakukan dalam rangka memenuhi kebutuhan industri dan pengguna dengan mamanfaatkan hasil-hasil teknologi yang sudah ada.

 

Karenanya tutur Hammam, pengembangan teknologi harus menjawab kebutuhan pengguna. Kemudian bersama-sama industri melakukan uji-coba produksi melalui kegiatan pengoperasian sehingga dihasilkan optimasi proses produksi dan produk dengan kualitas sesuai standar dan harga lebih murah dibandingkan kompetitor di pasaran dan menghasilkan produk industrinya yang mampu lolos sertifikasi dan perizinan yang berlaku.

 

Ia berharap peran Perekayasa lebih diperkuat sesuai tugas utama tersebut di atas sehingga dalam lembaga yang mempunyai tugas dan fungsi untuk pengkajian dan penerapan teknologi.

Penguatan kompetensi para perekayasa akan menjadi sumber daya yang besar dimiliki pemerintah yang bisa dimanfaatkan pihak swata sehingga bisa menjadi pengungkit riset dan inovasi, pungkasnya. (Humas BPPT)