3191
Hits

UNIT PENGOLAHAN AIR BERSIH BPPT ATASI KESULITAN AIR BERSIH DAN AIR MINUM KORBAN BANJIR

Pemilihan lokasi tersebut menurut Rudi merupakan hasil koordinasi dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), karena dinilai daerah tersebut paling membutuhkan air mengingat kala itu banjir tidak kunjung surut.

Unit pengolahan air bersih tersebut mulai beroperasi sejak Minggu (20/1) di wilayah RT 13 dan RT 16 RW 08 Penjaringan dengan kapasitas dua meter per kubik. Pada hari pertama dan kedua, tim BPPT hanya mengoperasikan unit pengolahan banjir menjadi air bersih untuk mandi dan cuci, belum untuk minum. Sementara pada hari ketiga dan seterusnya dilakukan penambahan kapasitas pengolahan air hingga lima meter kubik per jam dan juga penambahan fasilitas Reverse Osmosis (RO) sehingga air yang dihasilkan tidak hanya layak untuk mandi dan cuci tapi juga layak minum. Selain itu lokasinya juga berpindah ke depan SDN 03 Penjaringan dan posko pengungsian di rumah susun Muara Baru.

Mekanismenya air baku yang berasal dari air banjir dipompa melalui prefilterasi yang gunanya untuk menahan sampah dan kotoran kasar masuk ke penampungan. Kemudian air tersebut diproses dengan memban ultrafiltrasi dengan pori 0,01 mikron dan masuk ke strerilisator. Hingga tahap ini air baru menjadi air bersih, belum siap minum. Selanjutnya agar air bersih tersebut layak menjadi air minum, proses dilanjutkan dengan desalinasi RO menggunakan membran 0,0001 mikron. Dengan RO air yang dihasilkan layak minum dengan total padatan terlarut dalam airnya hanya 8 ppm. Perbandingannya dengan air minum kemasan saja masih 80 ppm, terang Rudi.

Unit pengolahan air inipun telah dioperasikan hingga banjir benar-benar surut dan masyarakat tidak lagi kesulitan memperoleh air bersih dan air minum, tegasnya. (SRA/humas)