4375
Hits

Kemandirian Bahan Baku Obat Melalui Inovasi Pati Farmasi Sebagai Eksipien Berbasis Ubi Kayu

Administrator
22 Jun 2021
Layanan Info Publik

Indonesia mempunyai sumber daya alam yang melimpah sebagai bahan baku dalam pembuatan pati farmasi seperti ubi kayu, sagu dan jagung, namun hingga saat ini belum ada satu pun produsen pati farmasi yang berdiri di Indonesia.

 

Kebutuhan pati farmasi di dalam negeri masih tergantung impor dari berbagai negara, karena belum adanya pabrik pati farmasi di dalam negeri. Saat ini industri farmasi Indonesia telah dapat memproduksi 90% kebutuhan produk obat dalam negeri bahkan untuk ekspor, namun hampir 95% produksi tersebut tergantung pada Bahan Baku Obat (BBO) impor padahal sumber daya Indonesia dapat dikembangkan.

 

Tingginya kebutuhan bahan baku dan bahan tambahan obat ke Indonesia terus mendorong riset dalam menghasilkan inovasi eksipien lokal yang memenuhi kualitas pharmaceutical grade.

 

Eksipien farmasi adalah suatu komponen dari produk farmasi selain bahan aktif yang ditambahkan saat formulasi untuk tujuan tertentu. Eksipien juga dapat sebagai komponen yang sangat diperlukan selain dari bahan aktif obat tersebut. Sebagian besar formulasi obat menggunakan eksipien dengan proporsi yang lebih banyak dibandingkan bahan aktif obat.

 

Saat ini belum ada industri farmasi bahan baku sedian obat (eksipien) berbahan baku ubi kayu di Indonesia. Industri farmasi menggunakan jagung sebagai pati farmasi yang diperoleh dari impor.

 

Merespon kondisi tersebut, Balai Besar Teknologi Pati (B2TP) - BPPT melakukan kajian dan pengembangan eksipen berbasis pati ubi kayu (tapioka) guna mewujudkan kemandirian obat di dalam negeri oleh industri farmasi nasional. Khususnya terkait dengan teknologi produksi bahan baku obat penunjang (excipient) baik sebagai binder, filler maupun disintegrant.

 

Inovasi produk yang dihasilkan B2TP berupa Partially Pragelatinized Starch (PPS) yang dibuat dengan memodifikasi tapioka secara fisis menggunakan teknik ekstrusi. Dari uji formulasi pembuatan tablet paracetamol 250 mg dari PPS tersebut diperoleh  hasil bahwa prototipe PPS tersebut dapat digunakan sebagai binder dengan kualitas tablet yang baik.

 

Adapun data yang diperoleh mempunyai keseragaman bobot 455.25 ± 8 mg, kekerasan tablet 5.5 (syarat keberterimaan 4-8) dan waktu hancur baik 1.16 ± 0.3 menit (syarat keberterimaan farmakope < 15 menit).

 

Menindaklanjuti hasil kajian tersebut, B2TP BPPT pung mengajak PT. Bangka Asindo Agri untuk menerapkan teknologi produksi pati farmasi pertama di Indonesia dalam rangka penyediaan bahan baku obat (eksipien) ini. Selain itu, B2TP siap bekerjasama dengan industri dalam penerapannya. (Humas/B2TP BPPT)