7059
Hits

BPPT DAMPINGI KARANGANYAR JADIKAN BIOFARMAKA BRANDING DAERAH

Administrator
04 Feb 2011
Kebijakan Teknologi

 

 

 

Kunjungan ke Karanganyar merupakan tindak lanjut dari penandatangan kesepahaman (MoU) antara BPPT dengan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, yang telah dilaksanakan beberapa waktu lalu.

Lebih lanjut Tatang mengatakan, dengan banyaknya daerah otonom dan keterbatasan SDM yang ada, BPPT tidak dapat mendampingi semua daerah otonom dalam pengembangan SIDa. Karenanya, prioritas kerjasama adalah dengan daerah yang punya keinginan dan komitmen kuat untuk menghasilkan kisah keberhasilan (success story) dalam pengembangan SIDa. Daerah yang berhasil tersebut, dapat dijadikan contoh bagi daerah lainnya dalam mengembangkan SIDa di daerahnya masing-masing, imbuhnya.

Pada kesempatan tersebut, didiskusikan agenda mengenai pengembangan klaster biofarmaka sebagai bagian pengembangan SIDa di Kabupaten Karanganyar. Kabupaten Karanganyar merupakan daerah yang menjadi percontohan nasional untuk program Saintifikasi Jamu bagi layanan medik. Terdapat 60 Puskesmas yang tersebar di lima kabupaten di Jateng yang menjadi lokasi kegiatan, yang menjadikan penguatan klaster industri biofarmaka di Karanganyar, menjadi penting.

Pada pertemuan itu, Bupati Karanganyar, Rina Iriani, mengatakan bahwa dirinya sangat mendukung upaya kerjasama tersebut dan berharap Kabupaten Karanganyar dengan biofarmakanya dapat berkembang dengan baik serta dapat memberikan kontribusi dalam mensejahterakan masyarakat Karanganyar.

Namun, lanjut Rina, masih ada kendala dalam pengembangan klaster biofarmaka, diantaranya adalah sarana produksi, permodalan, dan kelembagaan. Diharapkan dengan keterlibatan BPPT dan Balibangda Provinsi Jawa Tengah, klaster biofarmaka dapat berkembang di 17 kecamatan di Kabupaten Karanganyar dan menjadi percontohan di Indonesia untuk pengembangan komoditas ini, tuturnya.

Sementara itu pada kesempatan yang sama, Kepala Balitbang Propinsi Jawa Tengah, Agus Suryono, mengemukakan keyakinannya untuk keberhasilkan upaya pengembangan potensi tanaman obat yang bernilai tinggi di Karanganyar, dengan keterlibatan BPPT, Kemenristek, Pemerintah Provinsi, Pemerintah Kabupaten, Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Tanaman Obat dan Obat Tradisional (BPTO) di Tawangmangu.

Saya yakin Karanganyar bisa dikembangkan menjadi Desa Wisata Jamu atau Center of Herbal. Kuncinya ada di Pemerintahan Kabupaten dan Kota. Kami dari Pemprov, siap membantu dan mendampingi sehingga penguatan klaster industri biofarmaka dapat terwujud, tegasnya.

Dalam prakarsa penguatan klaster biofarmaka, BPPT akan mendampingi melalui penguatan jaringan inovasi di bidang fito-farmaka atau obat alam. Saat ini sudah ada sekitar 7000 tanaman obat yang terdokumentasi, dengan 900 diantaranya berada di etalase BPTO. Di Balai tersebut juga telah dibuka Klinik Saintifikasi Jamu Hortus Medicus yang diresmikan bersama-sama unit pendukung lainnya.

Rintisan dalam hal ini juga ditemui ada beberapa wilayah kerjasama diantaranya di daerah Karanganyar, Wonogiri, Sragen, Magetan, Pacitan, Ngawi dan Ponorogo atau yang disingkat dengan KARISMA PAWIROGO. (Dedi Suhendri/pkt/KYRA/humas)