6477
Hits

BPPT Dorong Pemanfaatan Sagu Sebagai Sumber Pangan Nasional

 

"Kemandirian pangan menghadapi tantangan besar terutama ketergantungan yang tinggi pada pangan impor. Untuk diketahui, impor gandum Indonesia mencapai 6,2 juta metric ton dengan nilai US$2,2 miliar di tahun 2012. Indonesia pun menjadi negara nomor dua terbesar pengimpor gandum setelah Mesir," kata Listyani di sela Diskusi "Pengembangan Industrialisasi Sagu Berbasis Inovasi Teknologi untuk Membangun Ketahanan Pangan Nasional", di BPPT, Jakarta,(26/3).

 Listyani mengungkapkan bahwa tingkat konsumsi beras masyarakat Indonesia sebanyak 130 kg/kapita/tahun. Itu merupakan angka yang tinggi dibanding tingkat konsumsi beras dunia yang rata-rata hanya 60 kg/kapita/tahun. Swasembada beras pun lanjutnya menghadapi ancaman, karena alih fungsi lahan persawahan untuk pemukiman, fasilitas umum dan industri sebesar 120.000 hektare per tahun. Sementara pencetakan sawah baru hanya 100.000 hektare per tahun. Tantangan lain yang juga ditemui adalah ketersediaan air untuk persawahan. Belum lagi dinamika iklim global sehingga terjadi gagal panen oleh bencana banjir dan kekeringan.

"Berbagai tantangan di atas mendorong kita semua untuk mengembangkan sumber pangan lain, yaitu sagu. Untuk diketahui, sagu merupakan sumber pangan lokal Indonesia dan menjadi salah satu sumber pangan yang memiliki potensi tinggi untuk dikembangkan," ungkap Listyani.

Perlu diketahui, luas hutan sagu Indonesia sekitar 1,25 juta hektare, dimana 12 juta hektare ada di Papua. Luasan lahan di Papua yang telah dibudidayakan secara semi kultivasi baru 14 ribu hektare, sementara di luar Papua (Sumatera, Sulawesi, Maluku, dan Kalimantan) mencapai 120 ribu hektare. Dengan luasan 1,2 juta hektare lahan sagu di Papua mampu menghasilkan 10-20 ton sagu per hektare per tahun. Maka diharapkan akan tersedia sumber cadangan karbohidrat sebesar 12-24 juta ton per tahun.

"Cadangan sagu yang besar itu merupakan potensi bagi pangan, sebagai bahan baku industri dan sebagai sumber energi. Selain sebagai sumber pangan, sagu juga diharapkan menjadi salah satu pijakan kuat bagi peningkatan kesejahteraan penduduk Papua dan Papua Barat," harap Listyani.

Saat ini, BPPT sedang menjalin kerjasama dengan Dirjen Perkebunan, Kementerian Perindustrian, dan Pemerintah Daerah Sorong Selatan, mengembangkan pilot project untuk pemberdayaan UKM di Dusun Sayal, Kabupaten Sorong Selatan. Dengan pilot project ini diharapkan konsep pengembangan sagu (khususnya di Papua) dapat digunakan sebagai referensi pola pemberdayaan UKM sagu dan pola kerjasama petani dan pengusaha secara nasional.

"Kami menyadari bahwa pengembangan sagu menghadapi tantangan yang tidak ringan, karena lokasi terpencil dengan infrastruktur yang belum memadai untuk akses transportasi dan akses pasokan energi. Untuk itu perlu diskusi bersama antara pemangku kepentingan dan masyarakat agar dicapai solusi terbaiknya supaya pemanfaatan sagu dapat menjadi salah satu sumber pangan untuk dikonsumsi masyarakat di Indonesia," tutup Listyani. (tw/SYRA/Humas)