7059
Hits

BPPT Inisiasi Pusat Inovasi Bisnis dan Teknologi Universitas Diponegoro

Administrator
31 May 2016
Kebijakan Teknologi

 

 

“Program pengembangan mata kuliah technopreneurship dengan dukungan pengembangan pusat inovasi di universitas merupakan bagian dari program pengembangan technopreneur yang tercakup dalam Program National Science and Techno Park (NSTP) Puspiptek yang merupakan salah satu dari sembilan program nasional pengembangan STP yang diamanahkan kepada BPPT,” terang Dudi.

 

 

 

Lebih lanjut dikatakan Dudi bahwa UNDIP merupakan perguruan tinggi ke-10 yang bekerjasama dengan BPPT dalam mengembangkan mata kuliah technopreneur di perguruan tinggi. “Hingga tahun 2016 ini ada 11 Pusat Inovasi yang dikembangkan di 11 perguruan tinggi dan pusat inovasi di daerah-daerah yang sedang mengembangkan technopark yang mendorong lahirnya teknopreneur”.

 

Sementara saat Peresmian PIBT tersebut Menteri Ristek dan Dikti M. Nasir menguraikan bahwa inovasi, sebagai satu wujud dari hasil rekayasa pemikiran atau riset, menjadi hal yang penting dalam proses pembangunan. "Sayangnya, selama ini riset yang dihasilkan berhenti pada tahap publikasi. Untuk itu PIBT ini  merupakan salah satu upaya dalam percepatan pembangunan di indonesia," ungkap Menristek Dikti dalam sambutannya.

 

 

 

Karena itu, lanjut Nasir, untuk menjadi sebuah inovasi yang bermanfaat bagi masyarakat, riset yang dihasilkan harus dapat dihilirisasi dan dikomersalisasikan ke industri. “Inovasi menjadi tuntutan bangsa. Inovasi harus betul-betul memberikan manfaat besar bagi masyarakat. Siap atau tidaknya suatu riset dihilirisasikan dan dikomersialisasikan ke industri harus memenuhi beberapa kriteria yang sesuai dengan Technology Readiness Level (TRL). Melalui TRL dapat dilihat apakah riset tersebut sudah mampu untuk dipasarkan melalui industri,” tegasnya.

 

 

Nasir mencontohkan hasil riset yang sudah siap dihilirisasi seperti Kapal Paralon. “Dari segi material bisa cepat didapat, dari segi waktu prosesnya lebih cepat dan dari efisiensi bahan bakar biayanya lebih hemat. Langkah selanjutnya adalah bagaimana produk ini dapat dikomersialisasikan? Tentunya hal utama adalah harus mendapat sertifikasi terlebih dahulu. Disinilah diharapkan BPPT dapat berperan,” tuntasnya. (Humas/HMP)