2436
Hits

BPPT Raih ASEAN Engineering Achievement Award 2018

 

Penghargaan diterima Balai Besar Teknologi Konversi Energi (B2TKE) BPPT atas keberhasilan dalam rekayasa teknologi Teknologi Smart Grid pertama di Indonesia, serta Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) skala 3 MW.

 

Disebutkan lebih lanjut, event tahunan CAFEO-36 Tahun 2018, dihadiri sekitar 1.000 insinyur lebih yang terdaftar di 24 negara, dengan mengusung tema Engineering Rail Connectivity and Fostering Excellence in Engineering Education berlangsung 12 – 14 November 2018.

 

 

CAFEO sendiri merupakan hasil afiliasi antara ASEAN Federation of Engineering Organisations (AFEO) dan Federation of Engineering Institutions in Asia & Pacific (FEIAP), serta bertuan rumah secara bergantian oleh 10 negara ASEAN, dimana Indonesia dalam ajang ini diwakili oleh Persatuan Insinyur Indonesia (PII).

 

Teknologi Smart Grid

 

Inovasi hasil rekayasa teknologi BPPT di bidang energi, yakni smart grid  saat ini telah digunakan sebagai upaya mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil (BBM) terutama pada daerah terpencil atau remote seperti di Pulau Sumba.

 

 

Upaya peningkatan kapasitas pembangkit energi terbarukan ke dalam jaringan sistem kelistrikan terus dilakukan, namun perlu penanganan khusus karena karakteristik pembangkit tergantung pada kondisi alam.

 

Pertumbuhan ekonomi Indonesia yang pesat membutuhkan daya listrik lebih besar selama beberapa tahun ke depan guna mempertahankan laju pertumbuhannya. Banyak pulau di Indonesia diberkati dengan sumber daya energi terbarukan yang melimpah.

 

 

Sumber energi terbarukan yang cukup, biaya bahan bakar minyak yang tinggi serta kekurangan energi menjadikan Indonesia sebagai tempat yang ideal untuk instalasi pembangkit terdistribusi dan jaringan kelistrikan skala kecil (micro-grid) dari sumber energi terbarukan.

 

 

Namun mengintegrasikan sumber daya energi terbarukan ke dalam jaringan distribusi baik skala utility maupun micro-grid menghadapi beberapa tantangan seperti investasi awal yang besar, intermittency, masalah stabilitas, dan biaya tambahan dari proses integrasi dengan generator konvensional.

 

 

Oleh karena itu diperlukan penerapan jaringan listrik cerdas (smart grid), yaitu jaringan kelistrikan yang menggunakan teknologi ICT (Information and Control Technology) terbaru sehingga mampu mengoptimalkan pemanfaatan pembangkit EBT pada jaringan kelistrikan yang ada.

 

Sebagai informasi BPPT dalam menerima penghargaan ini juga diwakili oleh Kepala BPPT, M. Sarinanto beserta tim dari B2TKE.

 

 

“Terima kasih kepada seluruh pihak yang terus mendukung dan bersinergi dengan kita. Penghargaan ini sebagai bukti juga keberhasilan pemerintah Indonesia,” pungkasnya. (Humas/HMP)