6098
Hits

BPPT Siap Cetak Mahasiswa UNSRI Jadi Technopreneur Lewat Kurikulum Technopreneurship

Administrator
18 Sep 2015
Kebijakan Teknologi


Dalam kerjasma ini ada tiga hal yang dilakukan, pertama merumuskan perkuliahan technopreneur yang berjumlah tiga SKS. Kedua, penguatan kelembagaan pusat inovasi, yang mana pusat inovasi merupakan unit atau lembaga yang akan bertugas memfasilitasi berkembangnya perusahaan-perusahaan inovatif. Dan, ketiga, melakukan inkubasi bersama-sama dengan pusat inovasi dengan demikian diharapkan nantinya akan berkembang usaha‐usaha kecil menengah yang inovatif dari lingkungan kampus UNSRI.


"Dalam mengembangkan teknoprener di perguruan tinggi yang menjadi indikator yaitu jumlah UKM dan produk inovatif dari perguruan tinggi meningkat, berfungsinya Pusat Inovasi di perguruan tinggi dan berkembangnya budaya inovasi di perguruan tinggi. Perguruan tinggi sebagai agent of change untuk mencapai tujuan tersebut, salah satu upaya yang harus dilakukan menumbuhkembangkan budaya inovasi melalui program kurikulum technopreneurship dan mengembangkan Pusat Inovasi," kata Tatang.


Sementara, Rektor UNSRI Badia Perizade menyambut baik dan sangat mendukung diadakannya program kurikulum technopreneurship yang digagas BPPT.  "Kami sangat mengapresiasi langkah BPPT dalam mengagas kurikulum technopreneurship yang akan diterapkan di UNSRI untuk menuju kampus entrepreneurial. UNSRI siap menjadi kampus pertama yang akan menerapkan kurikulum technopreneurship," tegasnya.


Badia berharap dengan adanya kerjasama BPPT dan UNSRI melalui program kurikulum technopreneurship diharapkan dapat mendorong mahasiswa untuk memikirkan dan mengembangkan ide-ide kreatif, merancang, membuat dan mengembangkan bisnis yang didasarkan pada materi-materi kuliah yang dipelajarinya.


"Jika kurikulum technopreneurship dapat diterapkan di perguruan tinggi maka orientasi mahasiswa ketika mereka telah lulus tidak lagi pada pencarian kerja, tetapi pada penciptaan lapangan kerja berdasarkan ide-ide kreatif yang telah mereka pikirkan dan formulasikan sejak di bangku kuliah," tutup Badia.


Untuk diketahui, kurikulum technopreneurship sangat tepat dikembangkan di perguruan tinggi mengingat bahwa technopreneur berbeda dengan enterprener. Bila enterprener didefinisikan sebagai seseorang yang mengorganisasikan, memanajemen dan mengambil risiko dari suatu bisnis. Maka technopreneur didefinisikan sebagai seorang enterpreneur yang dalam bisnisnya melibatkan inovasi teknologi. Penggunaan inovasi teknologi inilah yang menjadi keunggulan perguruan tinggi untuk mengembangkan technopreneurship. (Humas)