3435
Hits

Dukung Penetapan Batas Maritim Nasional, BPPT - BIG Gelar Ekspose Survei Landas Kontinen

Administrator
03 Dec 2020
Layanan Info Publik

Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) melalui Balai Teknologi Survei Kelautan melakukan Ekspose Kegiatan Survei Landas Kontinen Barat Pulau Sumatera, Jakarta (3/12). Mengikuti keberhasilan klaim landas kontinen di Barat Aceh pada tahun 2008 dan pengajuan landas kontinen di Utara Papua pada tahun 2019, tahun ini Indonesia kembali melakukan Survei Landas Kontinen Barat Pulau Sumatera. Survei landas kontinen di Barat Pulau Sumatera ini berhasil dilakukan pada 27 September – 23 November 2020 menggunakan K.R. Baruna Jaya I. 

 

Kepala BPPT Hammam Riza secara virtual menyampaikan, BPPT telah bekerjasama dengan Badan Informasi Geospasial (BIG) melakukan survei dan pemetaan wilayah perbatasan laut di perairan Barat Pulau Sumatera dalam rangka mendukung pelaksanaan PerPres RI No. 16 Tahun 2017 tentang Kebijakan Kelautan Indonesia (KKI), yang salah satunya adalah Penetapan Batas Maritim.

 

Penetapan Batas Maritim tersebut menurut Hammam sangat dibutuhkan guna memperoleh kepastian hukum untuk mendukung berbagai kegiatan kelautan dan penegakan kedaulatan hukum di laut seperti perikanan, wisata bahari, eksplorasi lepas pantai (offshore), transportasi laut dan sebagainya.

 

Termasuk batas maritim Republik Indonesia dengan negara tetangga yang mencakup batas laut wilayah (Territorial Sea), batas perairan Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) dan batas Landas Kontinen Indonesia (LKI), ujarnya.

 

Selain itu, BPPT juga telah lama terlibat dalam kegiatan Penetapan Batas Maritim ini sejak tahun 2005 yakni pada saat Pemerintah Indonesia dan beberapa negara Asia lain untuk pertama kalinya mengidentifikasi potensi wilayah Landas Kontinen di luar batas 200 M (ZEE).

 

Pemerintah Indonesia telah mengidentifikasi tiga potensi wilayah landas kontinen di luar batas 200 M, yakni di wilayah perairan Barat Pulau Sumatera, wilayah perairan Selatan Kepulauan Nusa Tenggara dan wilayah perairan Utara Pulau Papua, tambahnya.

 

Sementara, Kepala Balai Survei Teknologi Kelautan Djoko Nugroho menyampaikan, BPPT mendapatkan kepercayaan dari BIG untuk melakukan survei bukan hanya di Pulau Sumatera tetapi di Selatan/Tenggara Pulau Sumba pada 2022.

 

Kedepan pemetaan batimetri laut sangat penting dilakukan, karena kebutuhan data batimetri detail sangat penting kaitannya dengan area-area landas kontinen ekternal yang lain. Dengan menggunakan dua Kapal Riset Baruna Jaya yaitu Baruna I dan III yang memiliki kemampuan memetakan dasar laut dalam sampai mulai 8000m sampai dengan 11.000 m 

 

Dengan peningkatan kemampuan kapal Baruna Jaya guna memetakan laut dalam tidak saja pada area landas kontinen yang akan diklaim, tetapi juga potensi bencana tsunami menjadi sangat penting dan menjadi perhatian. Karenanya menurut Djoko, dengan memetakan batimetri dasar laut tersebut dapat mengetahui jika terjadi sebuah bencana tsunami seta bisa menentukan area mana nantinya yang akan berpotensi menjadi area yang bisa menjadi triger tsunami tersebut.

 

Djoko mencontohkan, seperti batimetri punggungan yang curam dengan batuan yang mudah menjadi landslide itu yang harus dipetakan, selain itu juga dapat memetakan laut dalam untuk area-area yang memang mempunyai relief batimetri yang sangat curam bisa diidentifikasi menjadi  potensi bencana tsunami.

 

Jadi kedepan, semoga BPPT dapat diberikan kepercayaan untuk merevitalisasi kapal menjadi lebih baik lagi. BPPT siap mendukung upaya pemerintah dalam meningkatkan upaya penetapan batas maritim nasional. Diharapkan dari acara ini seluruh ekspose hasil-hasil kegiatan survei LKI dapat memberikan penjelasan atas suatu rangkaian kegiatan Pemerintah dalam rangka penetapan batas maritim, pungkasnya. (Humas BPPT)