10982
Hits

INOVASI UNTUK MENDORONG PENINGKATAN DAYA SAING KEHUTANAN

Administrator
28 Jul 2011
Layanan Info Publik

Oleh karena, lebih lanjut Tatang menambahkan diperlukan suatu langkah kolaboratif dan sistemik dalam meningkatkan daya saing kehutanan dari berbagai pemangku kepentingan seperti Kementerian Kehutanan, Kementerian Perindustrian dan Kementerian Riset dan Teknologi. Strategi penguatan sistem inovasi ke depan perlu diarahkan pada prioritas yang mempertimbangkan tujuan pembaruan (renewal), pengelolaan hutan yang berkelanjutan (sustainable forest management), dan peningkatan daya saing (competitiveness), jelasnya.

BPPT, sebagai lembaga pemerintah yang bertugas dalam mengkaji dan menerapkan tenologi di berbagai bidang, salah satunya yaitu bidang kehutanan, telah melakukan beberapa inovasi sebagai bentuk kontribusi dalam mendorong inovasi pengelolaan hutan. Diantaranya yaitu inovasi teknologi budidaya tanaman hutan seperti produksi bibit untuk industri bibit tanaman kehutanan fast growing species, produksi Bibit Tumbuh Mandiri (BITUMAN) untuk jenis jenis tanaman reboisasi dan reklamasi lahan atau hutan. Selain itu juga BPPT telah melakukan perbanyakan tanaman secara in-vitro (kultur jaringan) dan ex-vitro untuk  tanaman hutan industri, reboisasi dan konservasi seperti Eucalyptus, Acacia, Sengon, Kayu Besi, Meranti, Jati, Jabon, Trembesi, Gaharu serta Ebony.

Tidak hanya sampai disitu, inovasi teknologi pengelolaan hasil hutan pun telah dilakukan oleh BPPT meliputi pengelolaan, pemanfaatan dan pengembangan nilai tambah hasil hutan non kayu seperti tanaman obat, akselerasi produksi gaharu, pembibitan dan penyuntikan serta pemanfaatan biofuels limbah kayu penebangan hutan untuk menjalankan industri pengolahan kayu, misalnya kayu lapis.

Berkaitan dengan perubahan iklim yang saat ini marak terjadi, diperlukan pula suatu inovasi teknologi yang dapat meningkatkan manajemen hutan dan adaptasinya terhadap perubahan iklim. Beberapa upaya yang dilakukan BPPT diantaranya yaitu dengan menggunakan Hyperspectral untuk mendeteksi degradasi hutan dan deforestasi secara akurat dalam rangka pengelolaan hutan Indonesia yang lestari (Sustainable Forest Management). Selain itu juga telah dilakukan penerapan mekanisme pengurangan emisi karbon akibat adanya deforestasi dan degradasi hutan (Reducing Emission for Deforestation and Forest Degradation/REDD).

Selain itu, diperlukan pula peran masyarakat untuk dapat ikut serta dalam upaya mengelola hutan. Inovasi teknologi yang dapat dilakukan dalam memberdayakan masyarakat sekitar hutan diantaranya melalui agroforestry teknologi yaitu pengelolaan hutan lestari dengan kombinasi hutan, pertanian, peternakan dan perikanan untuk menghasilkan pendapatan masyarakat jangka pendek, menengah dan panjang, serta melakukan pendidikan dan pemberdayaan masyarakat untuk pengurangan emisi karbon akibat REDD.

UAI ELS on Innovation dengan tema peran inovasi dalam pengelolaan hutan, menghadapi tantangan perubahan iklim dan lingkungan melalui green industry tersebut menghadirkan Menteri Kehutanan, Zulkifli Hasan sebagai pembicara utama. Dalam diskusi panel selain Deputi PKT BPPT, juga menghadirkan Rektor UAI yang juga Ketua Komite Inovasi Nasional, Zuhal, Ketua LIPI, Lukman Hakim, dan Rektor YARSI, Abdul Salam M Sofro.

Pada kesempatan tersebut juga telah dilakukan Penandatanganan Memorandum of Understanding antara BPPT dan UAI tentang Peningkatan Sumberdaya Manusia dalam Upaya Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Iptek) yang dilakukan oleh Deputi Kepala BPPT Bidang Teknologi Agroindustri dan Bioteknologi, Listyani Wijayanti dan Rektor UAI. (SYRA/humas)