8234
Hits

KANTONG ASPAL: EFISIEN DAN TANPA LIMBAH

Berawal dari pemikiran itulah para perekayasa Sentra Teknologi Polimer (STP) BPPT telah mengembangkan kantong aspal yang bisa ikut melebur yang berasal dari limbah plastik dan oli bekas.

Penelitian kantong aspal dimulai tahun 2009. Dari hasil kajian literatur dan paten yang ada, bahan baku limbah plastik dipilih dengan jenis polietilen, yang merupakan bahan yang banyak digunakan untuk tas plastik, jelas perekayasa kantong aspal STP BPPT, Saeful Rohman.

Formulasi kantong aspal dari bahan polimer termoplastik dan tambahan bahan baku bentonit atau tanah lempung yang dikeringkan untuk mendapatkan warna kecoklatan berfungsi sebagai modifier untuk memperbaiki sifat aspal. Polietilen dipilih sebagai bahan baku dicampur dengan etilen vinil asetat, untuk meningkatkan kelenturan polietilen, lanjutnya.

Selain itu, menurut Saeful, polivinil asetat juga berfungsi meningkatkan kelenturan aspal sehingga tidak mudah retak atau pecah. Pencampuran dilakukan pada fase leleh (melt compounding) dengan menggunakan mesin ekstruder.

Dalam pemakaiannya, kantong aspal bisa langsung dilebur dengan aspal dan tidak hanya sebagai kantong saja, tetapi juga dapat menaikkan kualitas dan daya rekat aspal.

Pada kesempatan yang sama, Manajer Riset dan Pengembangan STP-BPPT, Jayatin mengatakan masih perlunya riset lanjutan guna penyesuaian pengisian aspal. Aspal yang diisikan tidak boleh terlalu dingin supaya mudah dipompakan masuk ke kantong, tetapi tidak boleh terlalu panas juga supaya tidak melelehkan kantong aspalnya yang berbasis plastik mudah leleh.

Lebih lanjut Jayatin mengatakan bahwa nilai plus dari kantong aspal tersebut adalah tanpa limbah. Ditambah lagi, limbah plastik sebagai isu lingkungan yang banyak menarik perhatian akan makin berkurang jumlahnya jika diolah menjadi kantong-kantong aspal.

Kantong aspal yang dileburkan dengan aspal tersebut sudah diuji dengan Uji Marshall. Dari hasil Uji Marshall tersebut, leburan aspal dan kantongnya lebih kuat dibandingkan dengan sekadar aspal saja. Hasil uji tersebut bisa menunjang pemahaman bahwa kantong aspal berdampak positif bagi penggunaan aspal itu sendiri.

Kantong aspal yang dibuat STP-BPPT saat ini memiliki titik leleh pada suhu 100 derajat celsius. Suhu aspal yang disuntikkan ke kantong itu berkisar 60 derajat sampai 70 derajat celsius.

Kebutuhan untuk melanjutkan riset kantong aspal, menurut Jayatin, antara lain untuk meningkatkan titik lelehnya. Dari hasil kunjungan ke lokasi pendistribusian aspal Pertamina di Cilacap, Jawa Tengah, diketahui suhu aspal yang dicurahkan mencapai 130 derajat celsius. Sehingga kantong aspal STP-BPPT dengan titik leleh 100 derajat celsius belum memungkinkan langsung digunakan untuk mewadahi aspal dari Pertamina.

Kantong aspal menjadi inovasi yang sesungguhnya dibutuhkan masyarakat. Kesulitan mengakses aspal dalam ukuran kecil kerap menjadikan masyarakat menutup begitu saja jalan beraspal dengan beton semen. Padahal Perawatan jalan merupakan salah satu yang berkontribusi terhadap penghematan atau efisiensi energi yang digunakan setiap kendaraan.

Dengan kemasan kantong aspal, dimungkinkan aspal berbagai ukuran. Untuk ukuran 5 kilogram sampai 30-40 kilogram dapat dijinjing secara individual. Sehingga perbaikan dan perawatan jalan juga dapat lebih mudah dilakukan, jelas Jayatin. (stp/YRA/humas)