2183
Hits

MODIFIKASI CUACA UNTUK REDISTRIBUSI CURAH HUJAN DKI JAKARTA

Kepala BPPT juga mengatakan bahwa musim hujan diperkirakan akan berlangsung mulai pertengahan Januari sampai pertengahan Februari. Oleh karenanya, TMC akan terus berusaha untuk menjadi salah satu upaya guna meminimalisir tingginya curah hujan yang bisa menyebabkan banjir. TMC ini merupakan hal yang lazim dilakukan di negara-negara lain dan bukan hal baru. Sebelumnya, teknologi ini juga pernah sukses dilakukan dalam mengurangi curah hujan di Stadion Jakabaring saat pelaksanaan Sea Games 2011 di Palembang, imbuhnya.

Laksamana I Widodo yang mewakili Panglima TNI AL mengatakan siap mendukung kegiatan ini sepenuhnya. Empat pesawat disiapkan dalam operasi ini, yakni satu Hercules, satu pesawat jenis Cassa milik TNI AL, satu Cassa milik TNI AD dan satu Cassa milik BPPT. Selain itu 7.000 personel TNI yang terdiri dari tiga angkatan juga disiagakan, jelasnya.

Sementara itu Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana, Syamsul Maarif menyatakan bahwa pihaknya juga merencanakan operasi ini berjalan selama dua bulan hingga Maret 2013. Syamsul juga mengatakan kepada media untuk mengapresiasi pelaksanaan TMC ini. Resikonya sangat besar, kita masuk ke dalam awan dan akan mengalami guncangan yang hebat. Oleh karena itu, peran teknologi ini, yang juga karya anak bangsa, harus kita hargai semangat mereka yang rela berkorban, ujarnya.

Pelaksanaan TMC

Seperti diketahui bahwa tanggal 27 Januari kemarin diperkirakan akan muncul pasang surut air laut dan curah hujan tinggi sehingga berpotensi banjir di Jakarta. Untuk mengurangi risiko itu, maka BPPT bekerja sama dengan BNPB melaksanakan operasi TMC untuk mengurangi curah hujan di wilayah DKI Jakarta. Terdapat dua metode yang akan digunakan, yakni yang pertama mempercepat proses hujan bagi awan-awan yang akan masuk ke Jakarta. Sehingga, ketika curah hujan yang dibawa awan mendung tersebut sudah berkurang ketika sampai di atas area Jabodetabek.

Ditemui sesaat sebelum penerbangan pertama, Kepala UPT Hujan Buatan BPPT, F Heru Widodo menjelaskan bahwa para kru sudah siap melaksanakan modifikasi cuaca. Ia menjelaskan dari prediksi pergerakan awan, pada 26-28 Januari mendatang akan terjadi hujan tetapi intensitasnya tidak sebesar hujan yang terjadi pada 17-19 Januari lalu. " Untuk mencegah terjadinya hujan besar ini, kami sudah bersiap-siap untuk melakukan operasi TMC ini selama dua bulan," imbuhnya.

Ia kemudian menjelaskan metode modifikasi untuk mencegah terjadinya hujan besar di daratan DKI Jakarta dan sekitarnya. Menurutnya, jenis awan Cumulus yang berbentuk seperti bunga kol merupakan awan yang berpotensi hujan. Metode yang dipakai BPPT adalah metode kompetisi. Para perekayasa akan mencari calon-calon awan di sekitar barat daya, barat laut, dan sebelah barat Pulau Jawa, atau di wilayah Selat Sunda dan Anyer.

Mereka akan menyemai bahan ke dalam awan. Bahan yang berbagai aneka garam dengan ukuran 2-5 mikron ini ditanam di awan dengan bantuan pesawat terbang. Selain memakai pesawat terbang, juga bisa menggunakan sistem statis melalui wahana Ground Base Generator (GBG). Menurut Heru, akan ada lima GBG yang ditempatkan di sekitar Gunung Gede dan 25 titik di wilayah DKI Jakarta. Penggunaan GBG ini untuk memodifikasi awan agar terpecah. Ditambah dengan lima pos meteorologi yang melaporkan kondisi cuaca terkini.

Metode lainnya yang dilakukan BPPT berupa metode penyemaian awan dengan teknologi flare perak iodida yang berbentuk tabung. Mirip roket, tabung yang dipasang di sayap pesawat siap ditembakkan ke awan. Dengan terpecahnya awan-awan Cumulus, seluruh awan akan berkompetisi. Semakin banyak kompetisi, akan banyak awan yang menjadi impoten atau mandul karena tidak bisa menghasilkan air sama sekali. Awan-awan yang akan berpotensi jadi hujan terus diawasi hingga pergerakan di ketinggian sekitar 9.000-10.000 kaki. "Dari ketinggian itu, sudah bisa hujan, dengan intensitas lebih rendah karena sudah dipecah," ujarnya. (SRRA/humas BPPT)