7660
Hits

PANGAN ALTERNATIF, UPAYA BEBASKAN DIRI DARI KETERGANTUNGAN IMPOR PANGAN

Listyani menambahkan, fakta ketergantungan konsumsi masyarakat terhadap pangan bersumber beras masih sangat tinggi, begitu pula dengan konsumsi makanan siap saji yang berbasis bahan-bahan impor pun masih banyak. Oleh karena itulah dalam menyikapi masalah ini BPPT melakukan serangkaian upaya untuk membebaskan diri pada ketergantungan impor terigu yang sangat banyak mencapai lebih dari 90%, ucapnya.

Khusus penanganan diversifikasi pangan, dalam bincang iptek kali ini telah menghadirkan dua perekayasa muda Pusat Teknologi Agroindustri-TAB, Indah Kurniasari dan Renny Primasari, yang pada tanggal 24 Oktober 2011 lalu menerima penghargaan juara pertama pada Lomba Inovasi Pengolahan Hasil Perikanan Tingkat Nasional.

Pada kesempatan tersebut, Indah menyampaikan beberapa alasan mensubtitusikan mie berbahan tepung lokal dari jagung. Kandungan karbohidrat tepung pangan lokal ternyata tidak berbeda jauh dari tepung terigu dari gandum yang selama ini 100% diimpor. Disisi lain, mie merupakan konsumsi masyarakat indonesia kedua seteah nasi. Hal demikian dapat dilihat dari potensi pasar mie yang menjanjikan dengan tingkat konsumsi 55 bungkus/kapita per tahun di segala lapisan masyarakat, urainya.

Diversifikasi pangan lainnya adalah Makaroni ikan atau Makarina. Menurut Renny makanan ini sudah populer dan beredar di pasaran yang selama ini dominan berbahan tepung terigu yang juga mengandung protein yang tinggi. Kali ini, kami berhasil mengembangkan makarina berbahan tepung jagung dan ikan lele dengan teknologi yang sederahan dan harga yang lebih murah dibanding dengan bahan tepung terigu, ungkapnya.

Selain itu, sambungnya telah dikembangkan juga Surimi yang berasal dari ikan air tawar dari ikan lele dan ikan nila. Surimi berasal dari olahan ikan daging lumat yang sudah dicuci dan didinginkan, dagingnya pun lebih putih dan tidak berbau amis. Mutu surimi ikan air tawar ini secara fisik dan kimia tidak jauh berbeda denganb surimi umumnya, jelas Renny.

Namun, kendala industri surimi tersebut terbatas pada bahan baku surimi yang tergantung dari tangkapan alam dan selama ini tepung jagung hanya dimanfaatkan untuk pakan yang belum mudah ditemukan dipasaran dan hanya untuk ekspor sehingga kurang dikenal masyarakat.

Pengembangan dan komersialisasi produk pangan lokal ini telah dikembangkan dan bekerjasama dengan PT. Subafood Pangan Jaya, dan sudah berhasil memproduksi bihun jagung berbahan pati jagung. Pasar bihun jagung sekitar 10.000 ton/bulan, kini sudah mampu menggantikan 50% pangsa pasar bihun beras dan mulai merebut pasar mie gandum, ungkap Presiden Direktur PT. Subafood Pangan Jaya, Teddy Tjokrosaputro.

Teddy menyampaikan pihaknya mengonsumsi jagung dikarenakan jagung bisa ditanam di Indonesia. Selain itu Jagung juga merupakan tanaman pangan kedua setelah beras. Kami yakin jagung sudah pasti diterima di masyarakat dan pemerintah sebagai stok pangan pendamping beras, katanya.

Untuk pengembangannya lebih lanjut,  PT. Subafood Pangan Jaya bekerjasama dengan BPPT akan melakukan fortifikasi bihun jagung yang bertujuan memperkaya kandungan vitamin dan protein, efisiensi proses produksi dan penciptaan makanan baru berbasis jagung seperti makaroni, mie jagung kerupung jagung dan sebagainya, tutur Teddy. (KYRAS/humas)