6541
Hits

Penyediaan Teknologi Baja Guna Peningkatan Kapasitas Produksi Nasional

Karateristik bahan baku baja besi dan pasir besi sangat bervariasi, demikian pula variasi jenis sumber energinya seperti batu bara  dan gas. Oleh kerena itu diperlukan kegiatan riset dan pengembangan terkait penyiapan bahan baku industri hulu termasuk kebutuhan indutri baja. Pengembangan program riset indutri baja perlu dilakukan secara terintegrasi yang melibatkan kerjasama akademisi, Pemerintah dan bisnis sesuai dengan kebutuhan baja nasional dan roadmap pengembangan bahan baku mineral yang disusun oleh Kementrian Perindustrian.

Terkait hal tersebut Pusat Teknologi Material BPPT menggelar workshop “Telaah Kondisi Permasalahan dan Proyeksi Penyediaan Teknologi Baja Guna Peningkatan Kapasitas Produksi Nasional di Jakarta (28/11).   Direktur PTM-BPPT, Wawas Swathatafrijiah mengatakan, bahwa workshop ini merupakan kelanjutan dari  Focus Group Discussion (FGD) sebelumnya dengan temaTeknologi Material Baja Bermutu Tinggi untuk Menjawab Kebutuhan Nasional”.

FGD sebelumnya sudah berhasil mengkaji potensi dan permasalahan industri baja serta kemampuannya  saat ini.  Kebutuhan baja kontruksi yang menguasai 80 % kebutuhan kosumsi baja nasional. Dari sisi bahan baku kita ketahui bahwa banyak bahan tambang yang diekspor dalam keadaan mentah, tanpa melalui proses nilai tambah padahal dilain pihak iindustri di dalam negeri ini mengalami kesulitan tentang pasokan bahan baku dan kita melakukan impor,” terang Wawas.

Pada kesempatan yang sama,  I Nyoman Jujur dari PTM BPPT juga  menyampaikan mengenai kebutuhan baja terkait material pembangunan jembatan. “Kita tahu pradesign Jembatan Selat Sunda sudah diselesai oleh PT. Wiratman, kita sudah petakan kebutuhan industri baja mutu tinggi untuk pembangunan jembatan tersebut, dari kebutuhan itulah dapat dilihat kesiapan dari industri lokal untuk menjawab tantangan tersebut . Hal lainya yang tidak kalah penting adalah rekayasa industri berjalan dengan baik, artinya dimana industri  yang memenuhi kebutuhan akhir dari rekayasa suatu struktur dengan supply materialnya,” tambahnya.

Mengenai kebijakan pendukung, Wawas selanjutnya menuturkan bahwa Indonesia memiliki Undang-Undang Mineral Batu Bara (Minerba) Nomor 4 tahun 2009, yang memberikan tantangan dan peluang membangun kemandirian dan daya saing bangsa. “Tantangan tersebut diperlukan rekayasa teknologi pengolahan sumber daya alam yang kita miliki menjadi bahan baku yang dapat dimanfaatkan kita sendiri,” urainya.

Menurutnya kebutuhan baja nasional tidak terlepas dari pembangunan infrastruktur, dimana salah satu pembangunan infrasutruktur yang segera direalisasikan yaitu pembangunan kawasan industri Selat Sunda. Pembangun infrastruktur yang berteknologi tinggi seperti jembatan Selat Sunda  menuntut penggunaan baja berkualitas tinggi, design jembatan ini merupakan jembatan gantung ultra, dengan  panjang total  mencapai 29 km.

Ketika diidentifikasi mengenai pemenuhan kebutuhan bahan baku baja ini, Wawas menyayangkan bahwa kebutuhan ini belum dipenuhi oleh pemasok lokal.  Untuk itu kami melakukan koordinasi dan intermediasi antara lembaga dan stakeholder  terkait. “Dalam hal ini BPPT berperan  melakukan kajian teknologi  merekomendasikannya dengan pihak-pihak terkait dan mengoptimalkan potensi sumber daya manusia serta tidak terlepas untuk meningkatkan Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN) dalam rencana pembangunan Jembatan Selatan Sunda ini,” terangnya.(JYS/humas)