10909
Hits

Peran Ilmu Pengetahuan, Teknologi, Dan Inovasi Dalam Pembangunan Daerah

Administrator
17 Dec 2013
Layanan Info Publik

 

Tujuan kedua, lanjut Jumain  adalah untuk meningkatkan peran Iptekin sebagai enabler, accelerator, dan transfomer pembangunan dalam meningkatkan daya saing dan memperkuat kohesi sosial. Penguatan sistem inovasi mutlak diperlukan untuk mempercepat peningkatan kemampuan dan posisi Indonesia yang memiliki daya saing yang tinggi, serta pada saat bersamaan membawa kepada kohesi sosial yang semakin kuat. Tujuan ketiga, sebutnya adalah dalam memaknai cita-cita NKRI kita tidak dapat lagi mengabaikan dimensi Iptekin, karena suka atau tidak suka, semakin kita sadari bahwa esensi kedaulatan semakin ditentukan atau setidaknya dipengaruhi oleh kemampuan kita di bidang Iptekin.

Jumain kemudian menuturkan mengenai beberapa prakarsa penting yang dilakukan BPPT bersama mitra daerah dalam penguatan Sistem Inovasi Daerah Inovatif, seperti membangun ekosistem yang kondusif bagi berkembangnya bisnis dan masyarakat inovatif yang dilakukan di Kota Cimahi, Kota Pekalongan, dan Kabupaten Pelalawan, yakni dengan memperbaiki dokumen-dokumen perencanaan pembangunan (RPJMD) supaya sesuai dengan peraturan perundangan yang ada, serta telah mengadopsi roadmap penguatan sistem inovasi di dalamnya. “Prakarsa lain yang dilakukan antara lain memperbaiki sistem perizinan bisnis di Kabupaten Pelalawan dan Kota Pekalongan, membangun dan mengembangkan perguruan tinggi di Kabupaten Pelalawan, pembangunan ruang publik kreatif di Kota Pekalongan dan Kabupaten Pelalawan,” ungkapnya.

Sebagai informasi, pada acara yang mengambil tema Peran Ilmu Pengetahuan, Teknologi, Dan Inovasi (Iptekin) Dalam Pembangunan Daerah ini, juga dihadiri oleh Kepala Daerah mitra kerja BPPT, seperti Bupati Pelalawan, Bantaeng dan Walikota Pekalongan juga turut hadir sebagai narasumber dengan menyampaikan kisah suksesnya dengan bermitra bersama BPPT.

Kisah sukses yang dapat juga diadopsi oleh daerah lainnya antara lain prakarsa  klaster industri yang dikembangkan di Kota Cimahi, klaster industri kreatif. Kemudian  klaster industri yang dikembangkan di Kota Pekalongan yakni klaster  industri batik, sedangkan Kabupaten Pelalawan Riau memgembangkan klaster pariwisata dan klaster industri hilir sawit.

Beberapa prestasi dari mitra daerah yang didampingi BPPT antara lain Kota Cimahi memperoleh E-gov Award dan ICT Pura tahun 2011,  serta Anugerah Inovasi Jabar; Kota Pekalongan tahun 2013 antara lain memperoleh K.H. Dewantara Award (Penerapan TIK Untuk Pendidikan),  Penghargaan dari Kemenristek sebagai Kota Percontohan Penerapan Egov Berbasis Teknologi Open Source, Rekor Dunia MURI, Kategori Pemda Terbanyak Mengembangkan dan Memanfaatkan Aplikasi OSS, Juara I Nasional Pos Layanan Teknologi (Posyantek) – dalam rangka Gelar Teknologi Tepat Guna (TTG), serta penghargaan nasional lain yang berkaitan dengan inovasi di tahun sebelumnya.  Sementara itu Kabupaten Pelalawan yang baru satu tahun didampingi BPPT, bersama Kota Pekalongan, terpilih sebagai nominator di antara 25 daerah penerima innovation government  award (IGA) tahun 2013 dari Kemendagri.

Berdasarkan pengalaman BPPT dalam mendampingi beberapa daerah,  Jumain kemudian meyakini bahwa inovasi dapat berkembang secara optimal apabila kita dapat mengelola tiga hal, yakni perbedaan pendapat/gagasan, sumber daya manusia yang mumpuni, dan keterbukaan di antara pelaku-pelakunya. Selain itu, keberhasilan mengembangkan bisnis dan masyarakat yang inovatif akan sangat ditentukan oleh kualitas leadership (kepemimpinan) di berbagai tingkatan, baik kepala daerah, para kepala SKPD dan para pelaku bisnis sendiri.  “Komitmen dan konsistensi semua pihak, untuk bersama-sama mau melakukan perubahan melalui terobosan dalam melaksanakan pembangunan, merupakan kunci keberhasilan seluruh prakarsa tersebut,” tegasnya. (SYRA/Humas)