997
Hits

Peringati Hari Perempuan Internasional, Srikandi BRIN Unjuk Gigi

Septa Adi
09 Mar 2022
Berita Lainnya

International Women’s Day atau Hari Perempuan Internasional diperingati setiap tanggal 8 Maret setiap tahunnya. Hari Perempuan Internasional diperingati untuk menyoroti wanita dan hak-hak mereka. Kini, pada 2022, tema yang diusung oleh International Women's Day adalah Break The Bias.

 

Dalam rangka memperingati Hari perempuan Internasional, Badan Riset dan Inovasi Nasional menyelenggarakan Talk to Scientists (TTS) dengan topik “Women in Science”. 

 

Nur Tri Aries Plt. Sekretaris Utama BRIN dalam sambutannya mengatakan kesadaran dan kepedulian terhadap kiprah perempuan saat ini semakin tinggi. Hari perempuan internasional diperingati untuk menyoroti hak-hak perempuan. Bertujuan untuk merayakan pencapaian social, ekonomi, politik dan budaya kaum perempuan.

 

“Peringatan hari perempuan internasional juga sebagai momentum dalam merayakan seberapa jauh perempuan memiliki peranan yang besar dalam masyarakat dan peranan yang esensial dalam  kemajuan global khususnya dalam bidang sains dan teknologi” jelasnya

 

UNESCO sudah merilis data partisipasi perempuan dalam bidang ilmu pengetahuan masih kurang dari 30 persen di seluruh dunia. Di Indonesia, kehadiran BRIN yang masih dalam proses penggabungan periset seluruh Indonesia saat ini memiliki 12.672 dimana 35 persen nya periset perempuan. 

 

“Transisi organisasi yang menjadikan kita semua periset di tanah air terkonsolidasi diharapkan dapat membangun sinergisme optimisme, dan produktivitas, dengan pola tata Kelola manajemen iptek yang dibangun dengan diniatkan menciptakan ekosistem riset dan inovasi yang semakin kondusif di tanah air” terangnya

 

Dalam kesempatan ini BRIN mengangkat kiprah 3 periset perempuan yang merupakan bentuk rasa bangga atas keberhasilan srikandi BRIN mensejajarkan diri dengan para periset di dunia, yaitu Prof. Dr-Eng. Eniya Listiani Dewi, S.eng. M.Eng, Dr. rer.nat. Ir. Neni Sintawardani dan Dr. Yenny Meliana, M.Si. 

 

Mimpi Konsep Kota Hidrogen Prof Eniya

 

Eniya Listiani Dewi periset wanita berprestasi bidang teknologi Proses Elektrokimia yang juga menjadi pembicara pada TTS kali ini berbagi mengenai pengalamannya sebagai periset.

 

Dia menceritakan bahwa awal penelitiannya terinspirasi oleh profesornya saat menempuh Pendidikan doktor di Waseda University, Jepang.

 

“Apa yang kamu kerjakan sekarang ini sebetulnya meniru apa yang Tuhan ciptakan” terangnya menirukan kata-kata profesornya

Periset kelahiran Magelang tersebut menjelaskan, bahwa dirinya melakukan penemuan tentang katalis yang dapat mereduksi oksigen menjadi H2O. Proses ini sebetulnya terjadi dalam tubuh kita, di jantung kita, di darah kita, untuk mengubah menangkap oksigen di dalam hemoglobin dan merubahnya menjadi H2O.

 

“Ini tidak boleh 2 elektron jadi prosesnya harus 4 elektron. Kalo 2 elektron menjadi H2O2 (peroksida) yang justru meracuni tubuh kita. Katalis yang meniru proses itu tidak mudah,” jelasnya

 

Selain itu, dirinya juga melakukan penelitian tentang manufaktur fuel cell.

 

Mimpinya adalah konsep kota hidrogen, dimana sumber energinya berasal dari senyawa tersebut dan ramah lingkungan karena hasil samping pembakarannya berupa air yang tidak menimbulkan efek rumah kaca dan penipisan ozon.

 

Eniya memaparkan bahwa jumlah woman in Science di seluruh dunia berada di kisaran 35%, sedangkan di Indonesia lebih dari 50 persen lulusan universitas adalah wanita.

 

“Menyongsong 100 tahun merdeka, memaknai tahun 2045 tanpa ilmu pengetahuan dan kualifikasi teknis, bonus demografi kita hanyalah angka” tegasnya

 

Catatan Dr. Neni, Seorang Peneliti Perempuan

 

Neni Sintawardani periset bidang Teknologi Lingkungan yang juga menjadi pembicara dalam TTS Woman in Science berbagi pengalaman bagaimana berkarir sebagai peneliti.

 

Menurutnya penghargaan merupakan pengajuan oleh suatu komunitas yang menentukan bahwa seseorang itu dianggap mumpuni di suatu bidang atau berprestasi. Jadi penghargaan  merupakan pengakuan oleh komunitas, bukan pengajuan oleh pribadi.

 

Oleh sebab itu, harus ada bukti, rekam jejak, konsistensi dan prestasi. Indikator sebagai peneliti diantaranya pelaporan, karya ilmiah terpublikasi dalam bentuk jurnal maupun buku, paten, karya fisik (purwarupa), pembicara dalam forum ilmiah. 

 

“Penghargaan itu bukan tujuan, tapi bonus. Dan itu yang mengakui itu orang lain, bukan kita sendiri” tambahnya

 

Menurutnya di Indonesia tidak ada hambatan bagi perempuan peneliti, semua bidang dapat dimasuki justru hambatan ada di keluarga saat memasuki jenjang S3. Hal tersebut sangat berbeda dengan Jepang, dimana jumlah peneliti perempuan sangat terbatas.

 

Neni menceritakan awal mula melakukan penelitian dalam pengembangan teknologi pengolahan limbah hingga bio-toilet untuk sanitasi.

“Jadi kita mengembangkan konsep recycling yang artinya ‘limbah buangan’ kita sendiri (tinja dan urin) diolah untuk dapat digunakan dalam memproduksi pangan (pupuk pertanian). Nantinya pangan kita makan dan kemudian kita kembali membuang kotoran. Konsep ini dapat membentuk masyarakat yang sustainable dalam lingkungan,” jelasnya.

 

Selain itu, Neni juga berbagi pengalamannya saat menjalankan kerja sama riset dengan Japan International Cooperation Agency (JICA) dalam mengembangkan bio-toilet atau composting toilet. Riset yang ia lakukan ini untuk mengatasi permasalahan sanitasi di daerah-daerah yang sulit air.

 

Dalam konteks biogas, Neni dan timnya telah berhasil membangun Pilot Anaerobic Plant di daerah Sumedang dimana dari pengolahan limbah cair 10 pabrik tahu skala kecil mampu menghasilkan biogas yang telah dimanfaatkan oleh 89 kepala keluarga.

 

Teknologi Nano Emulsi Untuk Kosmetik

 

Tahun 2019 Yenny Meliana periset bidang kimia BRIN ditunjuk sebagai anggota Chemical Review Committee (CRC) di konvensi Rotterdam di Food and Agriculture Organization PBB. Jauh sebelum menjadi anggota CRC, Yenny pernah menghadiri konvensi di Roma sebagai observer. Baginya itu pengalaman pertama sekaligus sangat berkesan mengikuti rapat di level PBB.

 

“Saya sangat terpukau dengan rapat sekelas PBB, dimana setiap pihak yang punya kepentingan, baik dari industri, LSM, perwakilan negara-negara, menyampaikan argumen melalui data dan fakta dengan saling menghormati, sangat bagus sekali. High class sekali kalo saya bilang ” terangnya

 

Sejak saat itu, dirinya bermimpi untuk dapat terlibat di forum sekelas itu. Dan mimpinya terwujud di tahun 2019.

 

Menurut Yenny, sejak pandemi pertumbuhan market kosmetik cukup meningkat khususnya di Asia. Tantangan penelitian di bidang teknologi nanoemulsi diantaranya kosmetik yang lebih efektif, terjangkau, aman dan tidak berbahaya.

 

“kalau bisa meningkatkan ke arah kesehatan,” tambahnya.

 

Yenny menjelaskan bahwa fokus risetnya terhadap teknologi nanoemulsi untuk kosmetik terutama dari bahan-bahan alam. Teknologi ini telah diaplikasikan dalam berbagai produk, seperti kosmetik, pestisida, hand sanitizer, serum dan parfum. (Humas BRIN - ARF, ed - SAS)