5357
Hits

Resmi Dilantik Menjadi Kepala BPPT, Unggul Priyanto Siap Tingkatkan Peran BPPT Menghadapi Isu Nasional

Administrator
09 Jun 2014
Layanan Info Publik

 

Untuk rencana jangka pendek, sebutnya, seperti yang dikatakan Menristek jangan hanya membuat prototipe-protitipe saja. BPPT punya banyak prototipe yang siap dipakai industri dan diproduksi untuk dipakai oleh masyarakat. Seperti Early Warning System (EWS), alat pembaca e-ktp, puna. “Sesuai arahan dari Menristek, BPPT harus lebih fokus pada pangan, energi, dan air. Dan, itu akan saya segera tindaklanjuti,” ungkapnya.

Selanjutnya awak media menanyakan mengenai hal kelistrikan di Indonesia. Menanggapinya Unggul melihat bahwa sekarang ini, listrik di Indonesia tidak berimbang antara permintaan dengan persediaan. Kalau dari sisi teknologi, BPPT sekarang berpikir bahwa bagaimana misalnya meningkatkan rasio elektrasi listrik, karena di daerah-daerah di luar pulau Jawa banyak tempat-tempat memiliki potensi panas bumi, mikro hidro, dan tenaga surya, yang belum termanfaatkan dengan baik. “Karena itu BPPT dengan layanan teknologi, saat ini berusaha melakukan kajian-kajian untuk menghasilkan prototipe mau pun plan pilot project untuk menghasilkan pembangkit listrik skala kecil untuk tenaga panas bumi sebesar 5 Megawatt, kemudian tenaga surya dengan skala 500 Kilowatt,” paparnya.

Selain itu, sambungnya BPPT juga melakukan kajian-kajian seperti bagaimana memanfaatkan sumber energi untuk pembangkit listrik yang skala besar. Misalnya mengembangkan batu bara peringkat rendah dengan meng-upgrade menjadi batubara dengan kalori yang lebih tinggi kualitasnya sehingga bisa dipakai untuk pembangkit listrik skala besar. “Maksud dari batubara peringkat rendah itu adalah yang masih memilliki kandungan air tinggi sampai 60 persen. Kita berusaha agar batubara yang kandungan airnya tinggi dikurangi airnya. Dengan demikian airnya rendah dan nilai kalorinya tinggi. Itu namanya teknologi coal upgrading. Dan, BPPT sudah punya prototipe alatnya untuk teknologi coal upgrading itu. Kita juga sudah tawarkan kepada PLN dan kalau tertarik bisa meminta kepada BPPT,” jelasnya.

Mengenai pertanyaan media terkait substitusi BBM, Unggul menyatakan bahwa BBM ini adalah masalah yang sangat krusial. “Saat ini Indonesia mengimpor BBM sangat besar, yaitu satu juta barel per hari, sementara produksi kita hanya berjumlah 800 ribu per hari. Dengan demikian, substitusi BBM itu bukan sebagai alternatif lagi, tapi menjadi suatu keharusan,” tegasnya

Untuk substitusi BBM, Unggul melihat bahwa sebenarnya Indonesia memiliki potensi besar untuk pemanfaatan biofuel terutama yang berbasis kelapa sawit. “Mengapa? Karena produksi kelapa sawit kita itu sekarang minyaknya bisa mencapai 30 juta ton, sementara untuk pangan hanya 8 juta ton. Intinya, bagaimana caranya supaya minyak sawit yang sebagian besar di ekspor itu bisa dimanfaatkan untuk menggantikan solar di dalam negeri,” tambahnya.

Sementara untuk bensin, lulusan Doktor dari Kyushu University Jepang ini melihat bahwa itu bisa dilakukan substitusi dengan menggunakan gas. “Pertanyaannnya apakah infrastrukturnya memadai? Ya kalau belum memadai dibangun. Sama dengan yang dilakukan pemerintah saat konversi minyak tanah ke elpiji. Ya sama saja, orang pada waktu itu meragukan karena infrastrukturnya masih kurang. Ternyata, dengan tekad dan kemampuan yang kuat itu bisa dilakukan,” terangnya

Lebih lanjut Unggul juga yakin untuk masa mendatang, gas bisa menggantikan bensin di mobil-mobil, karena harganya murah dan separuh dari harga minyak. “Dengan menggunakan gas diharapkan subsidi pemerintah yang selama ini digelontorkan untuk BBM bisa dikurangi untuk kepentingan yang lain atau dipakai untuk membangun infrastruktur,” pungkasnya. (tw/SYRA/Humas)