9966
Hits

SINERGITAS PUSAT DAN DAERAH DALAM PENINGKATAN DAYA SAING

Administrator
13 Apr 2010
Kebijakan Teknologi

‚Berangkat dari kondisi tersebut, tahun 2008 lalu dibentuklah Pusat Inovasi Usaha Mikro Kecil dan Menengah (PI UMKM). Hal ini merujuk pada Instruksi Presiden Nomor 6 Tahun 2007 tentang Kebijakan Percepatan Sektor Riil dan Pemberdayaan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah dan Surat Keputusan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Nomor : KEP-30/M.EKON/06/2007, tanggal 29 Juni 2007 tentang Tim Persiapan Pembentukan Pusat Inovasi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah‚, kata Direktur Pusat Pengkajian Peningkatan Daya Saing BPPT, Dharmawan di ruang kerjanya, Selasa (13/4).

Dharmawan menjelaskan, tugas utama dari PI-UMKM ini adalah untuk memberikan arah kebijakan dalam rangka menumbuhkembangkan UMKM inovatif, melakukan koordinasi antara seluruh pihak yang terkait erat dengan UMKM baik itu dari kalangan pemerintah, lembaga penelitian dan pengembangan maupun dari kalangan swasta serta untuk membantu UMKM dalam hal akses pendanaan.

‚Dalam pelaksanaannya, PI UMKM dibantu oleh Lembaga Intermediasi (LI) yang tersebar di berbagai daerah. LI ini juga merupakan ujung tombak yang akan melakukan pelayanan langsung kepada UMKM, diantaranya ialah layanan berbasis teknologi pada UMKM, mengembangkan sumberdaya manusia di UMKM, jejaring bisnis termasuk akses pasar, dan memfasilitasi akses keuangan‚, ungkap Dharmawan lebih lanjut.

Untuk tahun 2010, fokus PI UMKM terletak pada pengembangan rumput laut dan minyak atsiri untuk sektor agro industri, sedangkan sektor manufaktur akan terarah pada industri komponen, dan pengembangan konten Information and Communication Technology (ICT) menjadi fokus perhatian sektor industri kreatif. ‚Dengan 26 LI yang ada saat ini, kita mengharapkan fokus pada kegiatan di sektor-sektor tersebut dapat diraih.‚.

Berbicara mengenai CAFTA, Dharmawan menilai bahwa faktor kesiapan industri dalam negeri menjadi sangat penting. ‚PR bersama kita adalah bagaimana menyiapkan agar UMKM dan industri lokal mampu bertahan dan meningkatkan daya saing produknya. Seringkali kendala yang dihadapi UMKM dalam meningkatkan kemampuannya justru datang dari internal, seperti rendahnya faktor pendidikan dan terbatasnya kemampuan finansial. Di sisi lain, faktor eksternal seperti terbatasnya akses pada sumberdaya produktif serta sulitnya akses pasar dan akses pendanaan, menjadi faktor yang sangat berpengaruh‚.

Sektor pendidikan menurutnya, juga menjadi bagian tidak terpisahkan dari peningkatan daya saing nasional. ‚Hanya 0,18% penduduk Indonesia yang memilih menjadi entrepreneur. Dengan terbatasnya jumlah lapangan kerja yang ada, harusnya para sarjana yang baru lulus tidak hanya berorientasi menjadi pegawai. Dengan menjadi entrepreneur, selain menciptakan lapangan kerja, juga akan berkontribusi pada peningkatan perekonomian yang tentunya secara sistemik akan berdampak pada peningkatan daya saing nasional secara keseluruhan. Selain itu melalui inkubator bisnis yang juga bertindak sebagai LI, kita mentargetkan peningkatan jumlah entrepreneur menjadi 2%‚.

Untuk pengembangan selanjutnya, Dharmawan meyakini peran pemerintah daerah dalam meningkatkan kemampuan daya saing di daerah akan sangat dibutuhkan. ‚Jika saja terdapat minimal satu LI di setiap kabupaten atau kota di Indonesia, maka dapat mendorong tumbuhnya UMKM unggul berdaya saing tinggi. PI UMKM siap untuk memberikan pendampingan serta mendorong daerah untuk selalu berinovasi dan berdaya saing‚. (YRA/humas)