5312
Hits

Sistem IT KPU Rawan Diretas, Perlu Sistem Keamanan Informasi Yang Lebih Mumpuni


Pada acara yang juga dipadukan dengan Grand Opening ITB-Korea Cyber Security Research and Development Center ini, perwakilan dari National Election Committee of Korea, Mr. Lee, menuturkan pengalamannya dimana halaman situsnya pada pelaksanaan Pemilu di Korea pun sempat diretas oleh hacker. “Pada tahun 2011 situs kami diretas,  webpage kami yang menyajikan data Pemilu pun terkena dampaknya, bahkan data Pemilu dimanipulasi oleh peretas tersebut,” ungkapnya.

Direktur Pusat Teknologi Informasi dan Komunikasi (PTIK-BPPT), Hammam Riza, menyebutkan bahwa penggunaan TIK sendiri tidak bermaksud menghilangkan aspek manual. Aspek keamanan informasi, lanjutnya, menjadi hal penting yang harus diperhatikan oleh penyelenggara Pemilu.”Tujuan utamanya adalah meningkatkan kualitas pelaksanaan Pemilu, khususnya dalam hal transparansi dan akuntabilitas,” ungkap Hammam kala menjadi narasumber dalam talkshow tersebut.

Untuk  menuju Pemilu yang aman dan minim penyimpangan, Wakil Dekan Fisip Universitas Padjajaran, Mudiyanti Rahmatunnisa pun menyarankan agar Komisi Pemilihan Umum pun sebenarnya juga harus belajar dari pelaksanaan sebelumnya. “Pelaksanaan Pemilu 2009 lalu masih menyisakan banyak kendala. Untuk itu, tahun ini KPU harus lebih meyakinkan publik bahwa sistem TIK yang digunakannya  dapat dijamin keamanannya,” ujarnya.

Sementara, R. Santoso Kepala Bagian Datin KPU pun menyadari bahwa bahwa peran TIK memang penting dalam pelaksanaan Pemilu. Hanya saja jelasnya, kesiapan infrastruktur yg menjadi pertimbangan, seperti koneksi, bandwith dan budaya masyarakat.”Kami telah mempelajari juga dari pelaksanaan Pemilu sebelumnya untuk menemukan cara terbaik dalam pelaksanaan Pemilu tahun 2014 ini,” pungkasnya. (tw/SYRA/Humas)