504
Hits

Tingkatan Penggunaan Produksi Dalam Negeri Melalui Pemanfaatan Kapal Mini LNG Carrier

(14/9/2021). Konsorsium Kapal Mini LNG Carrier yang saat ini telah berjalan, dengan melibatkan BKI dan ITS, telah menghasilkan desain kapal yang siap dibangun. Selain itu, telah diselesaikan juga Analisa/Kajian Tekno Ekonomi kapal tersebut oleh ITS, yang menyebutkan bahwa kapal yang didesain OR PPT BRIN adalah yang paling optimal untuk saat ini dalam mensuplai kebutuhan gas LNG di daerah Bali, Lombok, NTT.

 

OR PPT BRIN Bidang Maritim akan segera bekerja sama dengan PT. Pertamina beserta anak perusahaannya PT. Pertamina International Shipping (PIS) dalam penggunaan Mini LNG Carrier sebagai alat angkut gas alam cair. Hal tersebut mendukung program P3DN dengan peningkatan TKDN pada desain kapal serta pembangunan kapal pengangkut LNG skala mini di dalam negeri.

 

“PT. Pertamina bekomitmen untuk menjalankan program peningkatan TKDN. Kapal Mini LNG hasil desain BPPT (OR PPT BRIN) akan dapat diproduksi di galangan dalam negeri dengan didukung pelaksanaan oleh PT. Pertamina dan PT. PIS yang akan menjalankannya” kata Mulyono, Direktur Logistik, Supply Chain dan Infrastruktur PT. Pertamina pada acara Rapat Koordinasi dengan tim OR PPT BRIN Bidang Maritim.

 

Keputusan Menteri ESDM No. 13/2020 menjelaskan tentang Penugasan Pelaksanaan Penyediaan Pasokan dan Pembangunan Infrastruktur LNG, serta Konversi Penggunaan BBM dengan LNG Dalam Penyediaan Tenaga Listrik. Dalam penugasan tersebut dijelaskan bahwa Pertamina mendapat mandat sistem Logistik LNG untuk supply ke-52 PLTU tersebut. Penugasan pemerintah melalui Permen ESDM No. 16/2020 ada 52 lokasi gasifikasi PLTU yang akan dikonversi menggunakan LNG, jelas Mulyono.

 

Pertamina telah melakukan kerjasama dengan Kementerian ESDM yang merencanakan 52 lokasi kebutuhan terminal gasifikasi dengan spesifikasi kapal yang akan digunakan dan jumlah armada yang diperlukan. Kapasitas dan spektek Kapal Mini LNG OR PPT dimungkinkan sudah memenuhi syarat, hanya masih perlu dipertimbangkan dalam biaya pembangunan sehingga biaya investasi akhir dapat memenuhi sesuai dengan persyaratan dari ESDM untuk harga jualnya. “Target harga jual LNG harus lebih murah dari harga eksisting BBM di lokasi yang ditetapkan nantinya” kata Mulyono.

 

Muryadin Kepala BTH, OR PPT BRIN menyampaikan bahwa kisaran besar biaya pembangunan kapal Mini LNG Carrier model ISO Tank LCT adalah layak serta dapat dilaksanakan dalam waktu 14 bulan.

 

OR PPT BRIN juga diminta menyiapkan alternatif desain kapal mini LNG Carrier dengan ukuran yang lebih besar, untuk keperluan suplai kebutuhan gas alam cair kedepannya dan segera melakukan inventarisasi apa yang diperlukan PT. Pertamina untuk ditindaklanjuti dalam kerja samanya.

 

Selain itu OR PPT-BRIN Bidang Maritim, sedang melakukan pendampingan untuk program pengadaan kapal tanker dalam peningkatan P3DN  termasuk inventarisasi galangan kapal  yang dapat mensupport rencana peningkatan TKDN. Disisi lain, Pusyantek BRIN dan PT. Pertamina International Shipping (PIS) sedang dalam pembahasan kontrak untuk Kajian Peningkatan TKDN kapal-kapal Pertamina yang meliputi Kapal Tanker 3500 DWT, 6500 DWT dan Kapal Harbour Tug.

 

Akhirnya, dalam kerja sama Pemanfaatan Kapal Mini LNG Carrier yang akan dilakukan bersama pihak-pihak terkait ini nanti, akan memiliki peran yang sangat penting dalam mendukung kemajuan industri maritim dan produksi komponen kapal di dalam negeri, Indonesia.