Tel: (021) 316 8200   EMail: humas@bppt.go.id

BPPT Inisiasi Pusat Inovasi Bisnis dan Teknologi Universitas Diponegoro

Semarang, (30/5) - Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi resmikan Pusat Inovasi Bisnis dan Teknologi Universitas Diponegoro (PIBT-UNDIP) dan mencanangkan Mata Kuliah Technopreneurship Fakultas Teknik UNDIP yang merupakan hasil inisiasi Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT). 

 

 

Direktur Pusat Technopreneur dan Klaster Industri (PTKI-BPPT), Dudi Iskandar, mengatakan bahwa dibangunnya Pusat Inovasi dan dicanangkannya Mata Kuliah Technopreneurship di kalangan mahasiswa dan perguruan tinggi diharapkan dapat dijadikan sebagai tempat inkubasi yang mampu menjadi awal tumbuhnnya perusahaan pemula berbasis teknologi.

 

 

 

 

“Program pengembangan mata kuliah technopreneurship dengan dukungan pengembangan pusat inovasi di universitas merupakan bagian dari program pengembangan technopreneur yang tercakup dalam Program National Science and Techno Park (NSTP) Puspiptek yang merupakan salah satu dari sembilan program nasional pengembangan STP yang diamanahkan kepada BPPT,” terang Dudi.

 

 

 

Lebih lanjut dikatakan Dudi bahwa UNDIP merupakan perguruan tinggi ke-10 yang bekerjasama dengan BPPT dalam mengembangkan mata kuliah technopreneur di perguruan tinggi. “Hingga tahun 2016 ini ada 11 Pusat Inovasi yang dikembangkan di 11 perguruan tinggi dan pusat inovasi di daerah-daerah yang sedang mengembangkan technopark yang mendorong lahirnya teknopreneur”.

 

Sementara saat Peresmian PIBT tersebut Menteri Ristek dan Dikti M. Nasir menguraikan bahwa inovasi, sebagai satu wujud dari hasil rekayasa pemikiran atau riset, menjadi hal yang penting dalam proses pembangunan. "Sayangnya, selama ini riset yang dihasilkan berhenti pada tahap publikasi. Untuk itu PIBT ini  merupakan salah satu upaya dalam percepatan pembangunan di indonesia," ungkap Menristek Dikti dalam sambutannya.

 

 

 

Karena itu, lanjut Nasir, untuk menjadi sebuah inovasi yang bermanfaat bagi masyarakat, riset yang dihasilkan harus dapat dihilirisasi dan dikomersalisasikan ke industri. “Inovasi menjadi tuntutan bangsa. Inovasi harus betul-betul memberikan manfaat besar bagi masyarakat. Siap atau tidaknya suatu riset dihilirisasikan dan dikomersialisasikan ke industri harus memenuhi beberapa kriteria yang sesuai dengan Technology Readiness Level (TRL). Melalui TRL dapat dilihat apakah riset tersebut sudah mampu untuk dipasarkan melalui industri,” tegasnya.

 

 

Nasir mencontohkan hasil riset yang sudah siap dihilirisasi seperti Kapal Paralon. “Dari segi material bisa cepat didapat, dari segi waktu prosesnya lebih cepat dan dari efisiensi bahan bakar biayanya lebih hemat. Langkah selanjutnya adalah bagaimana produk ini dapat dikomersialisasikan? Tentunya hal utama adalah harus mendapat sertifikasi terlebih dahulu. Disinilah diharapkan BPPT dapat berperan,” tuntasnya. (Humas/HMP)

 

 

 

FacebookTwitterLinkedin

Tweet Terbaru

Teknologi Untuk Kejayaan Bangsa

Hubungi Kami

 Bagian Humas
Gedung BPPT II Lantai 15
Jl. M.H Thamrin No. 8 Jakarta Pusat DKI Jakarta 10340

  Tel: (021) 316 8200

  Fax: (021) 398 38729

  Web: bppt.go.id