Tel: (021) 316 9534   Email: humas@bppt.go.id

Optimalisasi Biomassa untuk Substitusi BBM

Sebagai komponen vital di dalam masyarakat modern, bahan bakar akan selalu menjadi sorotan nasional. Saat ini, pemerintah Indonesia telah berkomitmen untuk menggunakan sumber daya energi terbarukan, sebagai pengganti bahan bakar konvensional yang selama ini menjadi tumpuan masyarakat. Salah satu potensi energi terbarukan yang dapat dimanfaatkan dengan menggunakan teknologi yang ekonomis adalah biomassa.

Kepala BPPT Unggul Priyanto mengatakan, BPPT sebagai lembaga kaji terap teknologi di Indonesia memiliki peran dan tanggung jawab untuk mengkaji dan menerapkan teknologi tepat guna yang cocok dipakai di Indonesia. Dalam pengembangan potensi biomassa di Indonesia, BPPT bekerja sama dengan Gunma University dari Jepang, Yayasan Dian Desa (YDD) dan Asian People's Exchange (APEX).


"Kerjasama di bidang biomassa ini dilakukan karena belum termanfaatkannya biomassa sebagai bahan bakar cair untuk substitusi bahan bakar minyak. Untuk diketahui, biomassa merupakan bahan baku pembuat methanol yang dipakai sebagai bahan pembuat biodiesel," kata Unggul di acara Kick Off Meeting Gasification of Biomass Wastes/Liquid Fuel Production, di Ruang Komisi BPPT, Jakarta, (26/5).

Di Indonesia, tambah Unggul, pasokan methanol masih sangat minim. Itu disebabkan oleh bahan baku limbah biomassa, seperti sekam padi, sabuk kelapa, tempurung kelapa sawit, tandan kosong kelapa sawit, dan lainnya, belum termanfaatkan dengan baik untuk diubah menjadi methanol.

"Untuk itu, BPPT bersama dengan APEX, Gunma University dan YDD, yang mendapatkan dana dari JAICA dan JST akan melakukan kajian-kajian serta riset bersama mengenai pembuatan methanol dari bahan-bahan limbah biomassa," jelas Kepala BPPT.

Unggul juga menyampaikan, Indonesia memiliki banyak limbah biomassa, itu terlihat dari total produksi minyak sawit mencapai 30 juta ton per hari. Dari jumlah tersebut tentu banyak limbah sawit yang bisa dimanfaatkan untuk dijadikan biomassa. Salah satu limbahnya adalah tandan kosong kelapa sawit.

"Kalau kita punya minyak sawit sebanyak 30 juta ton, maka limbah sawit juga akan mencapai 30 juta ton. Selama ini limbah tersebut jarang dipakai dan sebagian kecil dipakai sebagai pupuk. Seharusnya semua limbah sawit itu bisa dimanfaatkan dengan mengolahnya menggunakan teknologi gasifikasi menjadi gas, kemudian diubah menjadi bahan bakar cair yang biasa disebut methanol. Bahan methanol itu yang kemudian menjadi bahan baku pembuat biodiesel," jelas Kepala BPPT.

Menurut Tanaka, Direktur Eksekutif APEX, kolaborasi antar lembaga sengaja dilakukan agar mendapatkan gambaran yang pas tentang teknologi yang cocok untuk di terapkan di Indonesia. "Kita selalu berusaha mencari teknologi yang tepat bagi masyarakat Indonesia. Kata tepat disini mengandung banyak hal, misalnya mudah digunakan, sederhana, masyarakat mampu membuatnya sendiri, dan mudah pula perawatannya. Disisi lain, teknologi yang diterapkan juga mengandung teknologi yang canggih. Disinilah peran peneliti di perlukan," terangnya.

Hal senada juga dikatakan Reiji Noda, perwakilan Universitas Gunma Jepang. "Ada dua target yang ingin kami capai dalam lima tahun kedepan. Pertama adalah terciptanya teknologi yang tepat bagi Indonesia, dan kedua adalah terbangunnya model plant yang akan kami kerjakan dalam kerjasama ini".

Sebagai informasi, beberapa pilot plant telah berhasil dikembangkan dan dibuat. Project terakhir adalah pembangunan kapasitas 135 kw di Jogjakarta. Adapun target project kali ini adalah membangun dua model plant kapasitas 250 kw.

Kerjasama antara BPPT, APEX, Gunma University dan Yayasan Dian Desa akan berlangsung lima tahun yang dimulai pada tahun ini dan selesai di tahun 2020. Diharapkan dari kerjasama ini menghasilkan teknologi pembuatan methanol dari bahan baku limbah biomassa yang dapat dioperasikan secara ekonomis, baik dalam pengoperasiannya dan biayanya.

"Diharapkan dari hasil kerjasama ini akan ditemukan suatu metoda atau teknologi yang sangat mudah dan murah untuk diterapkan di Indonesia dalam menghasilkan methanol. Sebab, methanol bisa dipakai sebagai pengganti bensin dan juga dapat dipakai sebagai bahan baku pembuat biodiesel pengganti solar," tutup Kepala BPPT. (tw/SYRA/Humas)

 

FacebookTwitterLinkedin

Tweet Terbaru

Teknologi Untuk Kejayaan Bangsa

Hubungi Kami

 Bagian Humas
Gedung BPPT II Lantai 15
Jl. M.H Thamrin No. 8 Jakarta Pusat DKI Jakarta 10340

  Tel: (021) 316 9534

  Fax: (021) 398 38729

  Web: bppt.go.id